Handil Bakti, mediapropsek.com – Krisis banjir yang merendam Komplek Subur Bastari dan Keruwing Indah selama 10 hari terakhir bukan sekadar fenomena alam. Bagi tokoh masyarakat setempat, Ustadz Sa’dilah S.Ag, ini adalah potret kemunduran ekologis yang sangat memprihatinkan.
Ustadz Sa’dilah membagikan memori kolektif yang kontras dengan kondisi saat ini. Ia mengenang masa 25 tahun silam sebagai era di mana air adalah kawan, bukan lawan.
“Dulu, sekitar 25 tahun yang lalu, saluran air di sini adalah ‘jalan raya’ yang hidup. Saya ingat betul saat pindah rumah dari Tamban, saya membawa semua perabotan menggunakan kapal kelotok langsung masuk ke dalam komplek tanpa hambatan,” kenang Ustadz Sa’dilah dengan mata menerawang.
Menurutnya, dahulu sungai-sungai kecil di Handil Bakti memiliki kedalaman yang terjaga dan aliran yang sangat lancar. Tidak ada gulma yang mencekik, apalagi tumpukan sampah plastik yang menyumbat.
Namun kini, fungsi transportasi dan drainase itu hilang ditelan perubahan zaman dan kelalaian manusia.

Ustadz Sa’dilah mengungkapkan keheranannya terhadap kondisi sungai yang kini beralih fungsi menjadi “tempat sampah “. Ia menggarisbawahi dua poin krusial yang menyebabkan banjir tahun ini begitu menyiksa.
Saya juga mengimbau dengan sangat agar warga jangan membuang sampah sembarangan. Sumbatan inilah yang membuat air tidak punya jalan keluar saat hujan turun,” tegasnya.
Jeritan dari dapur yang terendam, kondisi saat ini sudah mencapai titik nadir. “Warga menjerit. Bukan sekadar jalanan, tapi dapur banyak yang terendam. Kalau dapur sudah terendam, urusan perut dan kehidupan sehari-hari jadi lumpuh,” tambahnya.
“Kami memerlukan perhatian nyata dari pemerintah dan wakil rakyat setempat. Jangan biarkan masyarakat terus mengeluh setiap tahun. Pertanyaannya, bagaimana banjir ini dapat diatasi agar masyarakat tidak menjerit lagi? Itu yang kami tunggu,” ujar Ustadz Sa’dilah menutup pembicaraannya.
Transformasi dari pemukiman berbasis sungai menjadi daratan yang “terperangkap air” menuntut para pemangku kebijakan dan wakil rakyat di Dapil Barito Kuala untuk mencari solusinya. Jika tidak, “jeritan dari dapur” ini akan terus bergema di setiap awal tahun. (Mzr/***).
![]()
MediaProspek.com