Ilustrasi stress akibat kerja dan kehidupan. (Getty Images/iStockphoto/Jirapong Manustrong)

Pentingkah Keseimbangan antara Kerja dan Kehidupan Pribadi yang Berdampak pada Kesehatan? Ini Solusinya..

Mediaprospek.com – Selain terkait kesehatan, pekerjaan yang menumpuk kerap memicu banyak orang mengabaikan pentingnya work life balance atau keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Misalnya, keluhan seperti sakit kepala, nyeri punggung, hingga pegal yang seharusnya menjadi ‘alarm’ pertanda tubuh membutuhkan istirahat, seringnya diremehkan. Hal itu juga disoroti Melita Andini, seorang wellbeing facilitator dari Remedi Indonesia.

Satu hal yang ditekankan, jangan sampai pekerjaan membuat diri sendiri menjadi lupa menikmati hidup.

“Menikmati hidup, itu yang suka aku ingatkan pada diri sendiri kalau kerjaan lagi banyak banget, karena sudah pernah kok terjadi work life yang tidak balance dan tidak terintegrasi dengan baik sehingga akhirnya muncul penyakit di tubuh,” tuturnya saat berbincang di detikPagi, Kamis (25/5/2023).

Tidak berjalannya work life balance, membuat seseorang rentan mengalami stres. Seperti yang pernah dialami Melita, stres bahkan menjadi salah satu pemicu dirinya didiagnosis pre diabetik di usia cukup muda.

“Saat itu I gain weight sampai 15 kg, terus muncul penyakit-penyakit lain,” cerita dia.

Harus Apa Jika Work Life Balance Buruk?

Melita menyarankan segera mencari pertolongan untuk mulai merubah kebiasaan pola hidup, pola makan, hingga pola berelasi. Pola berelasi yang dimaksud adalah bagaimana seseorang tetap menjaga hubungan dengan orang terdekat, keluarga, hingga rekan di tengah kesibukan pekerjaan.

“Pola berelasi dengan diri sendiri, orang tua, pasangan, jadi pelan-pelan melatih membagi waktu,” sebutnya.

1. Pentingnya To Do List

Membuat to do list bak barang wajib demi menggapai keseimbangan waktu pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dengan membuat to do list, pekerjaan dalam satu hari bisa lebih tertata, seseorang juga biasanya akan lebih menghindari menunda-nunda tugas atau urusan tertentu.

Menunda pekerjaan dipastikan Melita malah hanya akan mengganggu fokus seharian.”Saat kerja fokus, saat makan kita nikmatin, bukan main HP tapi pikirannya kemana-mana.”

2. Nikmati Waktu Makan

Memberi waktu istirahat penuh untuk makan tanpa gangguan juga bisa menjadi salah satu upaya work life balance.

“Makan dinikmati, makan yang kita kunyah pelan-pelan, tubuh kita juga ramah dengan kita,” pesan dia.

3. Sempatkan Olahraga

Olahraga membuat tubuh menjadi lebih relaks. Tubuh yang relaks membantu diri untuk menjaga fokus dan tetap produktif.

“Kasih tubuh kita untuk olahraga, untuk relaks, melakukan hal yang kita sukai, itu yang akhirnya aku lakukan,” pesan dia.

4. Nggak Boleh Ragu ‘Say No’

Seringkali, dalam pekerjaan, sejumlah karyawan merasa tidak enak menolak tugas tambahan. Padahal, kewajiban lain di luar waktu kerja juga perlu dilakukan.

Hal seperti ini menurut Melita perlu dibenahi. Ia berpesan untuk belajar berani menolak saat tubuh terasa sudah di fase ‘overwhelmed’ saat bekerja seharian penuh.

“Belajar say no, bukan berarti menjadi lemah, ada orang yang biasanya mulai merasa bersalah ketika ngomong say no, nggak enakan, lalu sudah overwhelmed, tubuh kita padahal sudah kasih alarm, pundaknya sudah pegal, kepala sudah sudah pusing, bibir sudah pecah-pecah, jadi tubuh kita tuh sangat pintar sebenarnya untuk mengenali.”

5. Jangan Lupa Ambil Cuti!

Ada waktu saat seseorang perlu mengambil waktu rehat setelah berbulan-bulan berkutat dengan pekerjaan. Melita mengingatkan pentingnya pekerja mengambil cuti.

“Dan yang paling penting jangan lupa pakai cuti,” pungkas dia.

(mzr/dtc)

Loading

Check Also

Jelang Bulan Puasa, Semua Pihak Upayakan Gencatan Senjata di Gaza

Jakarta, Mediaprospek.com – Meski gencatan senjata adalah langkah yang tidak disetujui Perdana Menteri Israel Benyamin …