Pemeran Buya Hamka di Film, Vino G Bastian. (Foto: Marianus Harmita)

Ibu Vino G Bastian Ternyata Disyahadatkan oleh Tokoh Ulama dan Sastrawan Buya Hamka

Mediaprospek.com – Aktor Vino G Bastian didapuk memerankan tokoh almarhum Buya Hamka dalam film biopik tentang sang pendakwah yang terkenal hingga kini.

Lantas, suami Marsha Timothy yang juga seorang artis ini pun mengungkapkan sebuah cerita menarik saat dirinya ditawari peran tersebut.

Vino G Bastian mendapati sebuah fakta bahwa Buya Hamka adalah orang yang menuntun sang ibu membaca dua kalimat syahadat saat masuk Islam.

“Waktu ibu gue masih ada, gue kan dapat peran Buya Hamka nih. ‘Ma, mau main film Buya Hamka nih, tau nggak dulu ibu yang mualafin itu Buya Hamka. Gue baru tau setelah dapat film ini nggak ada dihubung-hubungin’,” jelasnya dalam YouTube The Sungkars.

Vino G Bastian pun baru mengetahui bahwa sebelum menikah, sang ibu dibawa kepada Buya Hamka untuk menuntunnya menjadi seorang mualaf.

“Jadi ternyata begitu mau nikah dengan bapak gue bawa ibu gue bertemu Buya Hamka, rumahnya itu di belakang Al Azhar,” tutur bapak satu anak ini.

Selain itu, Vino G Bastian juga mendapati fakta bahwa sosok Buya Hamka sangat dekat dengan keluarganya.

Lawan main Laudya Cynthia Bella ini mengungkapkan bahwa orang tuanya memiliki koleksi buku karya Buya Hamka untuk mendalami ilmu agama.

“Ternyata buku-buku yang ada di perpustakaan bokap itu salah satunya juga buat kajian mereka juga. Gue baru tahu itu pas dapat film ini dan cerita ama nyokap. Ada historinya buat keluarga gue,” pungkas Vino G Bastian.

Terkait ketokohan Buya Hamka, dia adalah seorang ulama sekaligus sastrawan dengan nama lengkap Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang populer dengan nama penanya “Hamka”.

Buya Hamka mempunyai nama lain saat kecil, yaitu Abdul Malik , lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah: 13 Muharram 1326] di Tanah Sirah, kini masuk wilayah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara, anak pasangan Abdul Karim Amrullah “Haji Rasul” dan Safiyah. Haji Rasul menikahi Safiyah setelah istri pertamanya, Raihana yang merupakan kakak Safiyah meninggal di Mekkah.

Kembali ke Minangkabau setelah belajar kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Haji Rasul memimpin gelombang pembaruan Islam, menentang tradisi adat dan amalan tarekat, walaupun ayahnya sendiri, Muhammad Amrullah adalah seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah.

Istri Amrullah, anduang bagi Malik, bernama Sitti Tarsawa adalah seorang yang mengajarkan tari, nyanyian, dan pencak silat.

Di Maninjau, Hamka kecil tinggal bersama anduangnya, mendengarkan pantun-pantun yang merekam keindahan alam Minangkabau. Ayahnya sering bepergian untuk berdakwah.

Saat berusia empat tahun, Malik mengikuti kepindahan orangtuanya ke Padang panjang, belajar membaca al-Quran dan bacaan shalat di bawah bimbingan Fatimah, kakak tirinya.

Pada 1918, Malik berhenti dari Sekolah Desa setelah melewatkan tiga tahun belajar. Karena menekankan pendidikan agama, Haji Rasul memasukkan Malik ke Thawalib.

Sekolah itu mewajibkan murid-muridnya menghafal kitab-kitab klasik, kaidah mengenai nahwu, dan ilmu saraf. Setelah belajar di Diniyah School setiap pagi, Malik menghadiri kelas Thawalib pada sore hari dan malamnya kembali ke surau.

Namun, sistem pembelajaran di Thawalib yang mengandalkan hafalan membuatnya jenuh. Kebanyakan murid Thawalib adalah remaja yang lebih tua dari Malik karena beratnya materi yang dihafalkan.

Dari pelajaran yang diikutinya, ia hanya tertarik dengan pelajaran arudh yang membahas tentang syair dalam bahasa Arab. Kendati kegiatannya dari pagi sampai sore hari dipenuhi dengan belajar, Hamka kecil terkenal nakal.

Ia sering mengganggu teman-temannya jika kehendaknya tidak dituruti. Karena gemar menonton film, Malik pernah mengelabui ayahnya, diam-diam tidak datang ke surau untuk mengintip film bisu yang sedang diputar di bioskop.

Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan.

Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

(mzr/dtc/umri)

Loading

Check Also

Sore Ini Liga 1, Barito Putera Vs Bhayangkara FC Dinilai Tanpa Beban

Bantul, Mediaprospek.com – Di pekan 33 BRI Liga 1 2023/2024, sore ini Barito Putera akan …