Home / Daerah / NTP Kalsel Naik 0,05 Persen

NTP Kalsel Naik 0,05 Persen

 Kepala Bidang Distibusi Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Fachri Ubadiyah (Foto, Dokumen BPS Prov Kalsel)

 Banjarmasin ,mediaprospek.com–Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan pada bulan Juni lalu sebesar 98,44 atau naik 0,05 persen dibanding NTP Mei yang mencapai 98,39. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,15 persen, dan  indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga mengalami kenaikan yang lebih kecil 0,11 persen.

Pada Juni 2020 terjadi perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Kalimantan Selatan sebesar 0,07 persen dari 106,32 menjadi 106,40 dibulan Juni 2020 disebabkan oleh naiknya Indeks dibeberapa kelompok penyusunan IKRT, terutama kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan pada bulan Juni sebesar 100,08 atau tidak ada perubahan dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 3,49 persen, dari Rp 5.586,34 per Kg di bulan Mei 2020 menjadi Rp 5.781,07 per Kg di bulan Juni 2020. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,48 persen dari Rp 5.674,77 per Kg di bulan Mei 2020 menjadi Rp 5.872,40 per Kg di bulan Juni 2020. Kepala Bidang Distibusi Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Fachri Ubadiyah beserta jajaran pada saat Jumpa Pers Bulanan kepada wartawan Media Cetak, Elektronik dan Online, serta para undangan dari Bank BI dan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Pemprov Kalsel secara live streaming via youtube mengatakan hal itu, seputar perkembangan nilai tukar petani dan harga produsen gabah pada bulan juni tahun 2020, Rabu (1/07/2020), siang.

Fachri menjelaskan, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM).

Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada Juni 2020, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 98,44 atau naik 0,05 persen jika dibandingkan NTP pada Mei 2020 yang mencapai 98,39 persen.

Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,15 persen, dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga mengalami kenaikan yang lebih kecil yaitu 0,11 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga naik 0,07 persen dan indeks BPPBM naik 0,15 persen.

Jika dilihat masing-masing subsektor pada Juni 2020, Kenaikan nilai NTP gabungan disebabkan oleh naiknya NTP subsektor tanaman pangan naik 1,08 persen, subsektor hortikultura naik 0,26 persen, subsektor perternakan naik 2,21 persen.

Fachri mengatakan, Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Juni 2020, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 0,15 persen dibandingkan Mei 2020, yaitu dari 103,85 menjadi 104,01.

Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik 1,14 persen, subsektor hortikultura naik 0,29 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 2,01 persen, subsektor peternakan naik 2,47 persen, dan subsektor perikanan naik 0,10 persen.

“Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian,” kata fachri.

“Pada Juni 2020, Ib gabungan mengalami kenaikan 0,11 persen dibandingkan dengan Ib Mei 2020, yaitu dari 105,55 menjadi 105,67. Bila dilihat masing-masing subsektor. Subsektor tanaman pangan naik 0,06 persen, subsektor hortikultura naik 0,02 persen, subsektor perkebunan rakyat naik 0,15 persen, subsektor peternakan naik 0,26 persen, dan subsektor perikanan naik 0,21 persen,” ujar fachri.

Fachri memaparkan, Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) pada Juni 2020 NTP-P sebesar 102,68 atau naik 1,08 persen. Pada bulan ini It naik sebesar 1,14 persen lebih besar dari kenaikan Ib yang mencapai 0,06 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Juni 2020 sebesar 108,33 lebih tinggi dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 105,54 sehingga NTP-P di atas 100.

It pada Juni 2020 secara gabungan terjadi kenaikan sebesar 1,14 persen. Indeks harga yang diterima kelompok padi terjadi kenaikan 1,22 persen, sedangkan kelompok palawija turun sebesar 0,09 persen. Naiknya kelompok padi karena belum banyak panen untuk padi varitas lokal dan sudah lewatnya musim panen varitas unggul. Untuk Kelompok palawija mengalami penurunan terutama disebabkan naiknya harga komoditi ubi kayu, ubi jalar.

“Indeks yang dibayar petani (Ib) Juni 2020 naik 0,06 persen, terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,03 persen, dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,14 persen,” jelas Fachri.

 

Subsektor              Hortikultura          (NTP-H) NTP-H bulan Juni 2020 mencapai 99,30 persen. Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 0,26 persen. Hal ini disebabkan it naik 0,29 persen menjadi 105,73 pada bulan Juni 2020, sementara Ib naik 0,02 persen menjadi 106,48. Indeks It lebih kecil dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  dibawah 100. Naiknya It Juni 2020 terutama karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok sayur-sayuran sebesar 0,67 persen.

Kenaikan It kelompok sayur-sayuran karena naiknya harga Terung, cabai hijau, cabai merah, kangkung dan beberapa komoditas lainnya. Kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,03 persen sedangkan indeks BPPBM turun sebesar 0,01 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada Juni 2020, NTP-TPR mencapai 91,22 atau turun 2,16 persen. Hal ini terjadi karena It turun 2,01 persen menjadi 96,80, dan Ib naik sebesar 0,15 persen menjadi 106,12 pada Juni 2020. Indeks yang diterima petani (it) Juni 2020 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR di bawah 100.

Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 98,79 pada Mei 2020 menjadi 96,80 pada Juni 2020, penurunan terjadi karena turunnya harga karet, kelapa sawit dan beberapa komoditas lainnya. Sedangkan kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,16 persen, dan indeks BPPBM naik sebesar 0,11 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan Juni 2020, NTP-TR mencapai 100,67 atau naik 2,21 persen. Hal ini terjadi karena It naik sebesar 2,47 persen, sementara Ib naik sebesar 0,26 persen, akan tetapi kenaikan It lebih besar dari kenaikan Ib.

Kenaikan It bulan Juni 2020 karena naiknya indeks harga beberapa kelompok, kelompok ternak kecil naik 2,70 persen, unggas naik 2,52 persen, ternak besar naik 2,40 persen dan hasil ternak turun 0,95 persen. Kenaikan pada Ib yang disebabkan oleh indeks BPPBM naik 0,40 persen. Indeks yang diterima petani (it) lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR di atas 100.

Subsektor Perikanan (NTNP) Pada Juni 2020, NTNP mencapai 98,84 atau turun 0,10 persen. Hal ini karena It hanya naik sebesar 0,10 persen, sementara Ib naik sebesar 0,21 persen. Kenaikan It pada bulan Juni 2020 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap secara rata-rata naik 0,17 persen, dan kelompok perikanan budidaya turun 0,15 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,09 persen, dan indeks  kelompok BPPBM naik 0,34 persen. Indeks It subsektor perikanan lebih kecil dari indeks Ib sehingga NTN-P di bawah 100.

Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada Juni 2020, NTN mencapai 98,50 atau turun 0,01 persen. Penurunan NTN karena indeks yang diterima (It) hanya naik 0,17 persen, sedangkan Ib naik sebesar 0,18 persen. Kenaikan It karena kelompok penangkapan dilaut hanya naik 0,63 persen dan kelompok penangkapan di perairan umum turun sebesar 1,55 persen. Kenaikan pada Ib dikarenakan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,03 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,35 persen. Indeks It kelompok penangkapan ikan lebih kecil dari indeks Ib sehingga NTN di bawah 100.

Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada Juni 2020, NTPi mencapai 100,17 atau turun 0,44 persen. Indeks yang diterima petani (It) turun 0,15 persen dan penurunan tersebut terjadi karena It kelompok budidaya air tawar turun 0,40 persen walaupun kelompok budidaya air payau naik 1,55 persen.

Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen. Kenaikan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT naik 0,31 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,29 persen. Indeks It kelompok budidaya ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTPi di atas 100.

Perbandingan Antar Provinsi Dari 34 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Juni 2020 adalah Provinsi Riau sebesar 109,66 dan terendah Provinsi Sumatera Selatan dengan NTP sebesar 89,99. Provinsi Kalimantan Selatan bulan Juni 2020 berada diurutan ke 19, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 99,60. Pada bulan ini terdapat 13 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 21 provinsi mengalami penurunan NTP.

Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Jambi yang naik 2,63 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Barat yang turun 2,33 persen. Dari 5 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Juni 2020, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Timur sebesar 107,02 persen dikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 102,37 persen, Kalimantan Utara sebesar 101,13 persen, Kalimantan Tengah sebesar 98,53 persen dan Kalimantan Selatan 98,44 persen.

Dilihat besarnya kenaikan/penurunan NTP, Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen, Provinsi Kalimantan Barat turun 2,33 persen, Kalimantan Tengah turun 1,93 persen, Kalimantan Timur turun 1,29 persen dan Kalimantan Utara turun 0,26 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga merupakan perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (It) dengan Indeks Harga yang dibayar oleh petani (Ib) dimana komponen Ib hanya meliputi Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Secara konseptual, NTUP mengukur seberapa cepat Indeks Harga yang Diterima oleh Petani dibandingkan dengan Indeks Harga Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal.

Pada Juni 2020, NTUP tidak mengalami perubahan. Hal ini terjadi karena It naik sebesar 0,15 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,15 persen. Seperti yang terlihat pada tabel 4, terdapat beberapa subsektor mengalami penurunan/kenaikan NTUP.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah Juni 2020 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 57 observasi.

Dibulan Juni 2020 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.700,00 per kilogram dengan varitas IR 42, Sartani dan Ciherang terjadi di Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Harga tertinggi mencapai Rp 9.091,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala dengan varitas Siam Karang Dukuh.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 3,49 persen, dari Rp 5.586,34 per Kg di bulan Mei 2020 menjadi Rp 5.781,07 per Kg di bulan Juni 2020, dimana pada bulan ini transaksi dan permintaan banyak  yang yang didominasi varitas unggul karena gabah unggul baru selesai panen, sehingga harga pembelian oleh pedagang terjadi kenaikan.

Kondisi ini menyebabkan secara harga rata-rata gabah kualitas GKP di bulan Juni 2020 terjadi kenaikan. Harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,48 persen dari Rp 5.674,77 per Kg di bulan Mei 2020 menjadi Rp 5.872,40 per Kg di bulan Juni 2020.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Juni 2020 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan persentase kadar air dari 15,17 persen dibulan Mei 2020 menjadi 14,89 persen dibulan Juni 2020, begitu juga kadar hampa/kotoran terjadi penurunan dari bulan sebelumnya. Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan Juni 2020 sebesar 3,02 persen.

 

 

Penjelasan Teknis Nilai Tukar Petani dengan Indeks Harga 2018=100

Mulai Januari 2020, penghitungan NTP menggunakan indeks harga dengan tahun dasar baru yakni 2018=100 baik untuk It maupun Ib. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan indeks harga 2018=100 dibandingkan dengan indeks harga 2012=100, khususnya mengenai paket komoditas maupun diagram timbang pada masing-masing subsektor yakni Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat, Peternakan, dan Perikanan.

Pada Subsektor Perikanan, diagram timbang dibangun dari Kegiatan Penangkapan Ikan maupun Kegiatan Budidaya Ikan.      Perubahan paket komoditas dan diagram timbang dalam penghitungan NTP dengan indeks harga 2018=100 didasarkan pada hasil Survei Penyempurnaan Diagram Timbang Nilai Tukar Petani 2017 (SPDT-NTP 2017) yang dilaksanakan oleh BPS. Hasil SPDT-NTP 2017 ini sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola produksi, pola biaya produksi, dan pola konsumsi rumah tangga petani dibandingkan dengan hasil SPDT-NTP periode sebelumnya yang dilaksanakan pada tahun 2012.

Secara nasional, penghitungan NTP dengan tahun dasar baru mencakup 34 provinisi sedangkan pada tahun dasar sebelumnya mencakup 33 provinsi. Perubahan mendasar lainnya terjadi pada pengklasifikasian pengeluaran konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu komponen nilai yang dibayar oleh rumah tangga petani. Perkembangan harga konsumsi rumah tangga yang meliputi berbagai barang dan jasa dari waktu ke waktu tercermin melalui Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT).

IKRT yang dihitung dengan tahun dasar baru 2018=100 menggunakan klasifikasi pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan modifikasi Classification of Individual Consumption According to Purpose 2018 (COICOP 2018). COICOP 2018 merupakan referensi internasional untuk klasifikasi pengeluaran rumah tangga. Pengklasifikasian pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan COICOP 2018 terdiri dari 11 (sebelas) Kelompok Pengeluaran. Sementara itu, pada tahun dasar sebelumnya yakni 2012=100, pengklasifikasian rumah tangga didasarkan pada 7 (tujuh) Kelompok Pengeluaran berdasarkan modifikasi COICOP 1999.  (Ais/Mzr/BPS Prov Kalsel/ Tabloid Prospek Banjarmasin)

 120 total views,  1 views today