Roland Lagonda Berbagi Tips Jadi Presenter TV

Roland Lagonda (Foto/Ist)

 Jakarta, mediaprospek.com – Menjadi presenter televisi mungkin masih menjadi salah satu profesi yang cukup diminati bagi banyak orang. Selain keterampilan berkomunikasi yang baik, seorang presenter juga dituntut memiliki wawasan dan penampilan yang menarik untuk menunjang pekerjaan tersebut.

Namun menggeluti profesi ini butuh kerja keras dan semangat yang kuat, karena ia dituntut harus siap dalam situasi apa pun. Termasuk harus mampu mengimbangi ritme kerja di sebuah stasiun televisi. Jika tidak dipastikan mereka ingin menekuni profesi bergengsi, akan kesulitan mengimbangi kecepatan kerja dan tekanan dalam pekerjaan di dunia broadcast yang membutuhkan stamina prima.

Karena itulah presenter itu harus membekali diri dengan wawasan yang terjaga dan keterampilan mengolah kata dengan baik dan benar. Mengupdate informasi time to time menjadi menu wajib yang harus dilakukan, agar tidak tertinggal beragam informasi. Tips inilah yang dibagikan gratis seorang Roland Lagonda, Presenter Trans7.

Pria penggemar olahraga petualangan dan travelling berbagi kisah dengan ratusan mahasiswa dalam Webinar Sharing Sesion Manajemen  dan Tehnik  Penyiaran Televisi, Bincang Presenter “ Asyik Jadi Presenter Atau Travelling Presenter “, yang diselenggarakan oleh Ilmu Komunikasi Universitas Achmad Dahlan, Sabtu malam (27/06/2020).

Sebelum menjajal status Presenter TV, Roland mengaku dirinya terlebih dulu diterjunkan ke lapangan melakukan sejumlah peliputan. Dia pun satu tim dengan produser sekaligus kameramen handal Trans7, Chandra Adi. Duet maut dua pria ini memang mampu menghasilkan sejumlah liputan berkelas dan mengantar Roland terus tampil di depan layar kaca sebagai pembaca berita.

“ Modal jadi presenter itu tak selalu berparas cantik dan tampan, namun pintar dan mampu beradaftasi dengan segala hal, termasuk mengikuti ritme kerja di stasiun televisi. Misalnya seperti saya di Trans7, ya harus bisa mengikuti pola dan standar kerja yang ada.

Tapi sebelum memasuki dunia broadcast , saya sarankan bekalilah kemampuan dengan skill termasuk kemampuan menginput dan mengupdate informasi,” kata Roland, saat menjawab pertanyaan peserta Webinar Bincang Presenter “ Asyik Jadi Presenter Atau Travelling Presenter “,yang dipandu moderator Vani Diaz Adiprabowo.

Sejumlah pengalaman menarik pun diungkapkan pria penggemar berat pesepakbola Christian Ronaldo. Termasuk ketika dirinya harus melakukan peliputan yang tak bisa, hingga sempat tertusuk bulu babi saat take gambar di sebuah pantai. Tak hanya itu dirinya pun pernah ditantang untuk makan bulu babi untuk sebuah liputan. Semula Roland ragu, karena mengkonsumsi bulu babi bakal keracunan. Namun demi liputan dirinya pun mantap memakan bulu babi, apalagi Chandra Adi , kameramen sekaligus Associate Producer, menjamin tidak terjadi apa-apa.

“ Karena yang bilang senior aman, ya gua makan.Terus Chandra Adi nanya enak kaga. Lha ternyata dia aja ngga pernah makan. Parah gua kena dikerjain…sumpah lho,.Tapi demi menghasilkan sebuah liputan yang bagus gua mesti lakukan.” ujar Roland tak bisa menahan tawa.

Jebolan Universitas Sam Ratulangi, yang juga  penyuka film Superman, The Dark Knight, 300 Rise of an Empire , mengingatkan mereka yang ingin menjadi presenter sebaiknya mempersiapkan diri dengan baik. Tak hanya mahir berbicara saja, namun kebugaran tubuh juga harus dijaga. Karena terkadang di TV, presenter harus bisa juga berada di lapangan dan melakukan perjalanan ke daerah-daerah.

Roland pun juga pernah merasakan perjuangan berat ketika ditugaskan liputan, seperti harus menuruni tebing air terjun Curug Sinulang di Jawa Barat yang tingginya sekitar 100 meter hanya dengan tali. Bayangkan saja, karena posisinya di bawah air terjun, beberapa berkali-kali ‘dihajar’ air. Karena harus mengambil beberapa angle, Roland pun beberapa kali berhenti dan tergantung sampai cameraman siap mengambil gambar. Saat itu proses syutingnya berjalan sekitar 1,5 jam dan selama itu pula ia tergantung di sana.

Pengalaman seru lainnya adalah saat Roland bersama Chandra Adi membersihkan kandang buaya di Taman Buaya di Cibarusa, Bekasi. Dalam kandang tersebut ada sekitar 90 ekor buaya besar. Meskipun ditemani pawang , dirinya pun sempat tegang juga. Karena di tengah-tengah syuting ada satu buaya yang marah dan mengejar mereka.

Praktisi Media yang juga seorang Dosen, Chandra Adi, bekerja di industri televisi harus mantap mental dan tidak setengah-tengah. Karenanya jika ingin jadi reporter harus benar-benar serius, demikian pula menginginkan posisi sebagai cameramen atau presenter tv. Bekerja di tv itu berbeda dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Karena harus membutuhkan skill dan mampu mengikuti ritme kerja yang dinamis. Stasiun televisi biasanya akan merekrut tenaga-tenaga yang siap pakai,trampil dan bermental kuat.

“ Jika memiliki keahlian tertentu dan spesial, tentu akan menjadi nilai plus dan menarik perhatian ketika melamar di stasiun televisi swasta. Bekerja di tv itu sifatnya dinamis, karena itulah kemampuan dan kapasitas harus ditingkatkan. Jenjang karir selalu menanti mereka yang agresif dan berjiwa kuat. Kecuali jika kerjanya disitu-situ aja. Kuncinya disiplin, jujur, mampu mengupgrade diri (meningkatkan kapasitas), Insya Allah karir akan bagus, seperti halnya Roland Lagonda yang legend itu,” tukas Chandra Adi. (***)

 278 total views,  1 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.