Nilai Tukar Petani di Kalsel Turun 0,25 Persen

 

 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Produsen Gabah Bulan Mei 2020

 Banjarmasin, mediaprospek.com–NTP Kalimantan Selatan pada bulan Mei lalu sebesar 98,39 atau turun 0,25 persen dibanding NTP bulan April yang mencapai 98,64. Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,09 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen.

Pada bulan Mei tadi terjadi perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Kalimantan Selatan sebesar 0,13 persen dari 106,19 menjadi 106,32 dibulan Mei 2020, hal ini disebabkan oleh naiknya Indeks dibeberapa kelompok penyusunan IKRT, terutama kelompok Pakaian dan Alas Kaki. Sedangkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Mei 2020 sebesar 100,08 atau turun 0,34 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Pada gabah kering panen, rata-rata harga gabah kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik 8,12 persen, dari Rp 5.166,61 per Kg di bulan April 2020 menjadi Rp 5.586,34 per Kg di bulan Mei 2020. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 7,81 persen dari Rp 5.263,92 per Kg di bulan April 2020 menjadi Rp 5.674,77 per Kg di bulan Mei 2020. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi jajaran pada saat jumpa pers kepada wartawan Media Cetak, Elektronik dan Online, serta para undangan dari Bank BI dan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD)  Pemprov Kalsel secara live streaming via youtube mengatakan hal itu, Selasa (2/06/2020), siang.

Diah menjelaskan, nilai tukar petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

“NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib),” kata Diah.

Menurut Diah, komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada Mei 2020, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 98,39 atau turun 0,25 persen jika dibandingkan NTP pada April 2020 yang mencapai 98,64 persen.

“Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,09 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga naik 0,13 persen dan indeks BPPBM naik 0,25 persen,” ujar Diah.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Mei 2020, penurunan nilai NTP gabungan disebabkan oleh turunnya NTP subsektor tanaman hortikultura 1,37 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 3,75 persen. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Mei 2020, It gabungan terjadi penurunan sebesar 0,09 persen dibandingkan April 2020, yaitu dari 103,95 menjadi 103,85. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik 1,83 persen, subsektor hortikultura turun 1,11 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 3,58 persen, subsektor peternakan naik 2,25 persen, dan subsektor perikanan naik 0,47 persen. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian,” papar Diah.

Pada Mei 2020, Ib gabungan mengalami kenaikan 0,16 persen dibandingkan dengan Ib April 2020, yaitu dari 105,39 menjadi 105,55. Bila dilihat masing-masing subsektor. Subsektor tanaman pangan naik 0,10 persen, subsektor hortikultura naik 0,27 persen, subsektor perkebunan rakyat naik 0,18 persen, subsektor peternakan naik 0,31 persen dan subsektor perikanan naik 0,22 persen.

Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Pada Mei 2020 NTP-P sebesar 101,57 atau naik 1,73 persen. Pada bulan ini It naik sebesar 1,83 persen dan Ib juga naik sebesar 0,10 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Mei 2020 sebesar 107,11 lebih tinggi dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 105,45 sehingga NTP-P di atas 100. It pada Mei 2020 secara gabungan terjadi kenaikan sebesar 1,83 persen. Indeks harga yang diterima kelompok padi terjadi kenaikan 1,84 persen, dan kelompok palawija naik sebesar 1,67 persen.

Naiknya kelompok padi karena permintaan gabah pada bulan ini sangat banyak sehingga harga pembelian oleh pedagang terjadi kenaikan, terkait bulan ramadan dan keperluan idul fitri. Untuk Kelompok palawija mengalami kenaikan terutama disebabkan naiknya harga komoditi ubi kayu, ubi jalar dan kacang hijau.

Indeks yang dibayar petani (Ib) April 2020 naik 0,10 persen, terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,03 persen dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,33 persen.

Subsektor Hortikultura (NTP-H) NTP-H bulan Mei 2020 mencapai 99,04 persen. Pada bulan ini NTP-H turun sebesar 1,37 persen. Hal ini disebabkan it turun 1,11 persen menjadi 105,43 pada bulan Mei 2020, sementara Ib naik 0,27 persen menjadi 106,45.

Indeks It lebih kecil dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  dibawah 100. Turunnya It Mei 2020 terutama karena turunnya indeks harga komoditas pada kelompok sayur-sayuran sebesar 2,00 persen. Penurunan It kelompok sayur-sayuran karena turunnya harga cabai rawit, cabai merah, Cabai Hijau, Seledri dan beberapa komoditas lainnya.

Kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,28 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 0,22 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada Mei 2020, NTP-TPR mencapai 93,23 atau turun 3,75 persen. Hal ini terjadi karena It turun 3,58 persen menjadi 98,79, dan Ib naik sebesar 0,18 persen menjadi 105,96 pada Mei 2020.

Indeks yang diterima petani (it) Mei 2020 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR di bawah 100. Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 102,45 pada April 2020 menjadi 98,79 pada Mei 2020, penurunan terjadi karena turunnya harga karet, kelapa, kelapa sawit dan beberapa komoditas lainnya.

Sedangkan kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,20 persen, dan indeks BPPBM sebesar 0,12 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan Mei 2020, NTP-TR mencapai 98,49 atau naik 1,94 persen. Hal ini terjadi karena  It naik sebesar 2,25 persen, sementara Ib naik sebesar 0,31 persen, akan tetapi kenaikan It lebih besar dari kenaikan Ib.

Kenaikan It bulan Mei 2020 karena naiknya indeks harga beberapa kelompok, kelompok unggas naik 2,27 persen, ternak besar naik 1,41 persen, ternak kecil tidak terjadi perubahan dan hasil ternak turun 0,15 persen. Kenaikan pada Ib yang disebabkan oleh naiknya indeks  konsumsi rumah tangga  0,16 persen dan indeks BPPBM naik 0,39 persen. Indeks yang diterima petani (it) lebih kecil dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR dibawah 100.

Subsektor Perikanan (NTNP) Pada Mei 2020, NTNP mencapai 98,94 atau naik 0,25 persen. Hal ini karena It naik sebesar 0,47 persen, sementara Ib hanya naik 0,22 persen. Kenaikan It pada bulan Mei 2020 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap secara rata-rata naik 0,18 persen dan kelompok perikanan budidaya naik 1,60 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,32 persen, dan indeks  kelompok BPPBM naik 0,12 persen.

Indeks It subsektor perikanan lebih kecil dari indeks Ib sehingga NTN-P di bawah 100. 1)  Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada Mei 2020, NTN mencapai 98,51 atau turun 0,07 persen. Penurunan NTN karena indeks yang diterima (It) hanya naik 0,18 persen, sedangkan Ib naik sebesar 0,25 persen.

Kenaikan It karena kelompok penangkapan perairan umum turun 1,30 persen dan kelompok penangkapan di laut naik 0,59 persen. Kenaikan pada Ib dikarenakan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,35 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,13 persen. Indeks It kelompok penangkapan ikan lebih kecil dari indeks Ib sehingga NTN di bawah 100.

 

Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada Mei 2020, NTPi mencapai 100,61 atau naik 1,48 Persen

 

Indeks yang diterima petani (It) naik 1,60 persen dan kenaikan tersebut terjadi karena It kelompok budidaya air tawar naik 1,81 persen dan kelompok budidaya air payau naik 0,15 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen. Kenaikan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT naik 0,22 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,06 persen. Indeks It kelompok budidaya ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTPi di atas 100.

Perbandingan Antar Provinsi Dari 34 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Mei 2020 adalah Provinsi Riau sebesar 111,74 dan terendah Provinsi Sumatera Selatan dengan NTP sebesar 88,56. Provinsi Kalimantan Selatan bulan Mei 2020 berada diurutan ke 20, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 99,47. Pada bulan ini terdapat 10 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 24 provinsi mengalami penurunan NTP.

Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Barat yang naik 1,04 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Jambi yang turun 3,53 persen. Dari 5 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Mei 2020, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Timur sebesar 108,42 persen.

Dikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 104,81 persen, Kalimantan Utara sebesar 101,40 persen, Kalimantan Tengah sebesar 100,47 persen dan Kalimantan Selatan 98,39 persen. Dilihat besarnya kenaikan/penurunan NTP, Provinsi Kalimantan Barat mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen, Provinsi Kalimantan Selatan turun 0,25 persen, Kalimantan Utara turun 0,81 persen, Kalimantan Timur turun 1,14 persen dan Kalimantan Tengah turun 1,87 persen.

Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Konsumsi rumah tangga petani merupakan salah satu komponen nilai yang dibayar oleh petani. Pada Mei 2020, Kalimantan Selatan terjadi perubahan IKRT sebesar 0,13 persen. Perubahan terutama terjadi karena naiknya indeks harga pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,84 persen, sedangkan kelompok lainnya terjadi kenaikan/penurunan berkisar antara 0,02 – 0,29 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga merupakan perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (It) dengan Indeks Harga yang dibayar oleh petani (Ib) dimana komponen Ib hanya meliputi Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Secara konseptual, NTUP mengukur seberapa cepat Indeks Harga yang Diterima oleh Petani dibandingkan dengan Indeks Harga Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal.

Pada Mei 2020, NTUP turun sebesar 0,34 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,09 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,25 persen. Beberapa subsektor mengalami penurunan NTUP, yaitu Subsektor Hortikultura, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat. Penurunan tertinggi NTUP pada Mei 2020 terdapat di Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yaitu sebesar 3,70 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah Mei 2020 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 47 observasi.

Dibulan Mei 2020 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.300,00 per kilogram dengan varitas Sentani dan Mikongga terjadi di Kecamatan Tapin Tengah, Tapin Utara Kabupaten Tapin dan Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Harga tertinggi mencapai Rp 8.636,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Rantau Badauh, Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dengan varitas Siam Karang Dukuh.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 8,12 persen, dari Rp 5.166,61 per Kg di bulan April 2020 menjadi Rp 5.586,34 per Kg di bulan Mei 2020, dimana pada bulan ini transaksi dan permintaan banyak  yang yang didominasi varitas unggul karena harga  masih lebih murah daripada varitas lokal, sehingga harga pembelian oleh pedagang terjadi kenaikan.

Kondisi ini menyebabkan secara harga rata-rata gabah kualitas GKP di bulan Mei 2020 terjadi kenaikan. Harga gabah di tingkat penggilingan naik 7,81 persen dari Rp 5.263,92 per Kg di bulan April 2020 menjadi Rp 5.674,77 per Kg di bulan Mei 2020.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Mei 2020 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan persentase kadar air dari 15,43 persen dibulan April 2020 menjadi 15,17 persen dibulan Mei 2020, begitu juga kadar hampa/kotoran terjadi penurunan dari bulan sebelumnya. Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan Mei 2020 sebesar 3,52 persen.

 

Penjelasan Teknis Nilai Tukar Petani dengan Indeks Harga 2018=100

 

Mulai Januari 2020, penghitungan NTP menggunakan indeks harga dengan tahun dasar baru yakni 2018=100 baik untuk It maupun Ib. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan indeks harga 2018=100 dibandingkan dengan indeks harga 2012=100, khususnya mengenai paket komoditas maupun diagram timbang pada masing-masing subsektor yakni Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat, Peternakan, dan Perikanan. Pada Subsektor Perikanan, diagram timbang dibangun dari Kegiatan Penangkapan Ikan maupun Kegiatan Budidaya Ikan.

Perubahan paket komoditas dan diagram timbang dalam penghitungan NTP dengan indeks harga 2018=100 didasarkan pada hasil Survei Penyempurnaan Diagram Timbang Nilai Tukar Petani 2017 (SPDT-NTP 2017) yang dilaksanakan oleh BPS.

Hasil SPDT-NTP 2017 ini sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola produksi, pola biaya produksi, dan pola konsumsi rumah tangga petani dibandingkan dengan hasil SPDT-NTP periode sebelumnya yang dilaksanakan pada tahun 2012. Secara nasional, penghitungan NTP dengan tahun dasar baru mencakup 34 provinisi sedangkan pada tahun dasar sebelumnya mencakup 33 provinsi.

Perubahan mendasar lainnya terjadi pada pengklasifikasian pengeluaran konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu komponen nilai yang dibayar oleh rumah tangga petani.

Perkembangan harga konsumsi rumah tangga yang meliputi berbagai barang dan jasa dari waktu ke waktu tercermin melalui Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT). IKRT yang dihitung dengan tahun dasar baru 2018=100 menggunakan klasifikasi pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan modifikasi Classification of Individual Consumption According to Purpose 2018 (COICOP 2018). COICOP 2018 merupakan referensi internasional untuk klasifikasi pengeluaran rumah tangga.

Pengklasifikasian pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan COICOP 2018 terdiri dari 11 (sebelas) Kelompok Pengeluaran. Sementara itu, pada tahun dasar sebelumnya yakni 2012=100, pengklasifikasian rumah tangga didasarkan pada 7 (tujuh) Kelompok Pengeluaran berdasarkan modifikasi COICOP 1999. (Ais/Mzr)

 121 total views,  2 views today

Check Also

Perjuangan Komisi IV Membuahkan Hasil

Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, HM Lutfi Saifuddin (Foto/Ist) Banjarmasin– Perjuangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.