Home / Umum / Pada Bulan April Kalsel Alami Deflasi 0,29 Persen

Pada Bulan April Kalsel Alami Deflasi 0,29 Persen

 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kalsel Amanlison Sembiring (Nomor dua dari kiri) didampingi Kepala Grup Advisory Ekonomi Keuangan dan Pengembangan Ekonomi, Rahmat Dwisaputra,  Ekonom Ahli Tim Pengembangan Ekonomi, Dadi Esa Cipta, Ekonom Ahli Koordinator Asesmen Ekonomi dan Keuangan Regional, Donni Fajar Anugrah, Kepala Divisi SP,PUR dan Layanan Administrasi, R. Bambang Setyo Pambudi, pada acara “Bincang Bersama Media” Banjarmasin, melalui teleconfrence kamis (8/05/2020). (Foto/Ist)

Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kalsel Amanlison Sembiring didampingi Kepala Grup Advisory Ekonomi Keuangan dan Pengembangan Ekonomi, Rahmat Dwisaputra,  Ekonom Ahli Tim Pengembangan Ekonomi, Dadi Esa Cipta, Ekonom Ahli Koordinator Asesmen Ekonomi dan Keuangan Regional, Donni Fajar Anugrah, Kepala Divisi SP,PUR dan Layanan Administrasi, R. Bambang Setyo Pambudi, pada acara “Bincang Bersama Media” Banjarmasin, pada kamis (8/05/2020),  mengatakan, Kalimantan Selatan pada April 2020 mengalami deflasi sebesar 0,29% (mtm), deflasi 0,19% (ytd) dan inflasi 1,49% (yoy), lebih rendah dibanding inflasi Kalimantan yang mengalami deflasi sebesar 0,15% (mtm), inflasi 0,37 (ytd) dan 1,84% (yoy) serta inflasi nasional yang sebesar 0,08 (mtm), 0,84 (ytd) dan 2,67% (yoy).

Amanlison mengatakan, terdapat tiga kota penghitung inflasi di Kalimantan Selatan, yaitu Banjarmasin, Tanjung dan Kotabaru. Pada April 2020, deflasi bersumber dari seluruh kota penghitung inflasi yaitu Kota Banjarmasin deflasi sebesar 0,27% (mtm), Kota Tanjung deflasi sebesar 0,29% (mtm), dan Kotabaru deflasi sebesar 0,48% (mtm).

Amanlison menjelaskan, Berdasarkan kelompoknya, deflasi Kalimantan Selatan terutama bersumber dari kelompok transportasi sebesar 1,40% (mtm), diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,73% (mtm). Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 1,70% (mtm). “Berdasarkan komoditas pendorong inflasi, utamanya bersumber dari beras, emas perhiasan, gula pasir, cabai rawit dan bawang merah. Adapun komoditas yang menahan inflasi dengan andil terbesar adalah ikan gabus, angkutan udara, daging ayam ras, ikan nila dan biaya pulsa ponsel,” kata Amanlison.

“Pencapaian inflasi Kalsel sampai dengan bulan April tersebut lebih rendah dibanding sasaran inflasi nasional 2020 sebesar 3,0±1%.Namun demikian inflasi Kalimantan Selatan dikeseluruhan tahun 2020 diprakirakan terkendali sesuai sasaran inflasi nasional yaitu 3,01%,” ujar Amanlison.

Amanlison memaparkan realisasi pertumbuhan ekonomi kalimantan selatan triwulan I 2020, dimana ekonomi kalimantan selatan triwulan I 2020 tumbuh 5,68% (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,85% (yoy). Dari sisi permintaan, peningkatan terutama didorong oleh meningkatnya kinerja ekspor, konsumsi pemerintah dan konsumsi RT. Dari sisi sektoral, peningkatan bersumber dari meningkatnya kinerja industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan.

“Dari sisi permintaan, untuk Konsumsi Rumah Tangga mengalami  Peningkatan terutama didorong kenaikan UMP yang lebih tinggi serta penyelenggaraan beberapa acara besar, seperti HPN (Hari Pers Nasional) dan Haul Guru Sekumpul,” kata Amanlison.

Pada konsumsi Pemerintah yang bersumber dari realisasi belanja APBD yang tumbuh 14,45%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (14,03%).

“Sedangkan Investasi mengalami  perlambatan terutama disebabkan belum maraknya aktivitas investasi awal tahun sesuai pola seasonal (musiman). Untuk ekspor  terutama didorong ekspor emas perhiasan dan permata yang tercatat mencapai USD 517 Juta. Pada impor yang bersumber dari impor barang modal untuk sejumlah kegiatan pembangunan yang masing berlangsung, di antaranya pusat perbelanjaan,” tandas Amanlison.

 

 

Dari sisi penawaran :

Pertanian : Sektor pertanian meningkat khususnya ditopang oleh tanaman perkebunan karena peningkatan produksi kelapa sawit.

Pertambangan : Meningkat didorong produksi batubara yang masih tumbuh positif terutama untuk pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO).

Industri Pengolahan : Peningkatan terutama didorong implementasi program B30 serta perbaikan harga CPO yang meningkat 34,2% pada triwulan I 2020.

Konstruksi : Tumbuh melambat sejalan dengan kinerja investasi yang tertahan terkait belum maraknya aktivitas investasi awal tahun.

Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) : Meningkat didorong penyelenggaraan beberapa kegiatan besar, seperti Hari Pers Nasional (HPN) dan Haul Guru Sekumpul.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Kalsel tahun 2020

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan tahun 2020 diprakirakan tetap tumbuh namun melambat dibanding 2019 akibat dampak Coivd-19. Sementara itu, ekspor diperkirakan tumbuh sedikit melambat terutama bersumber dari penurunan permintaan Negara mitra dagang utama (Tiongkok dan India) untuk batubara dan CPO. Perlambatan pertumbuhan tertahan oleh konsumsi pemerintah dan potensi ekspor emas.

Dari sisi permintaan:

Konsumsi Rumah Tangga : Melambat seiring terbatasnya aktivitas akibat kebijakan physical distancing yang turut berdampak pada penurunan daya beli.

Konsumsi Pemerintah : Bersumber dari pagu belanja APBD yang lebih tinggi, serta dorongan stimulus fiskal untuk penananganan dampak COVID-19.

Investasi : Terutama disebabkan telah selesainya berbagai proyeks strategis di tahun 2019, serta tertundanya pengerjaan proyek akibat COVID-19.

Ekspor : Sedikit melambat terkait penurunan permintaan negara mitra (Tiongkok dan India) untuk batubara dan CPO namun tertahan karena emas.

Impor : Melambat sejalan dengan perlambatan investasi akibat penundaan pengerjaan proyek akibat COVID-19.

 

Dari sisi penawaran :

Pertanian : Pelambatan dipengaruhi produksi TBS yang tertahan akibat dampak cuaca kering berkepanjangan di tahun 2019.

Pertambangan : Terutama bersumber dari penurunan permintaan Tiongkok & India seiring stockpile yang masih mencukupi

Industri Pengolahan : Sejalan dengan perlambatan pertanian, akibat dampak cuaca kering berkepanjangan di tahun 2019.

Konstruksi : Tumbuh melambat sejalan dengan kinerja investasi akibat penundaan pengerjaan beberapa proyek.

Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) : Melambat disebabkan terbatasnya aktivitas masyarakat dan perdagangan seiring kebijakan physical distancing.

 

 

Data Pasokan Pangan Kalimantan Selatan (Mei 2020)

Secara umum, pasokan pangan di Kalsel masih terkendali dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kelangkaan yang terjadi pada komoditas gula pasir, bawang putih serta bawang merah mulai teratasi. Belum terindikasi terjadinya panic buying akibat pandemi COVID-19 dan tidak terjadi penimbunan stok bahan pangan oleh masyarakat yang dapat menimbulkan kenaikan harga.

Berdasarkan konfirmasi dengan instansi terkait, data pasokan pangan tercatat sebagai berikut:

Beras : Pasokan secara umum memenuhi kebutuhan 4 bulan ke depan.

Minyak Goreng : Stok minyak goreng mencukupi dan pasokan terus ditambah.

Gula Pasir : Pasokan gula dari Lampung telah tiba di Kalsel dan akan terus ditambah.

Tepung Terigu : Pasokan tepung terigu mencukupi hingga Idul Fitri 2020.

Bawang Merah : Pasokan bawang merah kembali normal dan terus dilakukan upaya peningkatan persediaan melalui kerjasama dengan Jawa Timur.

Bawang Putih : Sudah ada pasokan tambahan untuk bawang putih dan bawang bombai, sehingga harga diharapkan kembali normal.

Daging Ayam Ras : Ketersediaan ayam di Kalsel mengalami surplus dan didistribusikan ke Kalteng dan Hulu Sungai, days-old-chicken (DOC) didatangkan dari Surabaya. Harga terus menurun seiring dengan penambahan pasokan sementara permintaan terus menurun.

Telur Ayam Ras : Surplus dan melakukan pengiriman ke Kalteng dan Kaltim namun masih mendapat pasokan tambahan dari Blitar yang kemudian akan didistribusikan kembali.

 

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalsel

Berbagai upaya telah dilakukan oleh TPID se-Kalsel yang mengacu pada kerangka 4K dalam menjaga kebutuhan masyarakat dengan harga yang stabil :

 

 

Keterjangkauan Harga :

Kab. Hulu Sungai Selatan – Kepala Dinas Pertanian Beserta jajarannya melakukan peninjauan langsung untuk menjaga  stabilisasi pasokan dan harga padi di tingkat petani menjelang Ramadhan di tengah pandemi COVID-19 (23 April 2020).

Kab Tabalong – Melakukan pasar murah sistem tertutup guna menjaga kestabilan harga di masyarakat (25 April 2020).

Kab. Kotabaru – Melaksanakan Operasi Pasar untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kestabilan harga gula yang sempat langka, terlebih menuju Ramadhan 1441H (27-29 April 2020).

 

Ketersediaan Pasokan :

Kab. Hulu Sungai Utara – Melakukan pembagian bibit cabai secara gratis kepada ASN untuk mengurangi inflasi harga cabai karena berkurangnya produksi akibat COVID-19. Bibit cabai merupakan hasil persemaian Dinas Kehutanan di mana benihnya didapatkan dari bantuan Dinas Pertanian Tanam Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel (16 April 2020).

Kab. Hulu  Sungai  Selatan – TPID melakukan panen cabai rawit guna menjaga ketersediaan bahan pangan di tengah COVID-19 (20 April 2020).

 

Kelancaran Distribusi :

Kab. Tanah Bumbu – Menyalurkan sebanyak 45 paket melalui Diskominfo Kabupaten Tanah Bumbu (13 April 2020).

Kab. Hulu Sungai Kab. Tapin, Hulu Sungai Utara, dan Tabalong – Menginisiasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) di

3 kabupaten untuk  memenuhi ketersediaan bawang di Kalsel yang selama ini amat tergantung dengan pasokan dari luar Kalsel. Namun kunjungan fisik untuk sementara dihentikan akibat dari merebaknya COVID-19 (21 April 2020).

 

Komunikasi Efektif :

Kab. Tanah Laut – Melaksanakan Rapat Koordinasi Forum Pimpinan Daerah Kab. Tanah Laut tentang Kesiapan Menjelang Ramadhan, yang antara lain membahas ketersediaan bahan pangan selama Ramadhan (21 April 2020).

Kab. Balangan – Menginformasikan hasil  monitoring harga bahan pokok di Pasar Induk Paringin kepada stakeholder terkait (22-25 April 2020).

 

 

Pemulihan UMKM Sepanjang COVID-19

Berdasarkan hasil survei, UMKM sangat terpukul dengan adanya COVID-19. Permasalahan bukan hanya terkait permodalan/pinjaman dari perbankan, namun juga ketersediaan/harga bahan baku dan pemasaran produk.

Berkaitan dengan hal tersebut, KPwBI Provinsi Kalsel berupaya melakukan beberapa hal untuk meningkatkan kapasitas ekonomi UMKM yaitu melalui pelatihan virtual, webinar untuk membuka peluang pasar ekspor, dan melakukan kurasi terhadap beberapa UMKM potensial untuk diikutsertakan pada Industri Kreatif Syariah (IKRA).

KPw BI Prov. Kalsel terus mendorong UMKM untuk melakukan diversifikasi usaha dan memanfaatkan penjualan secara online melalui WA, media sosial dan marketplace, serta mendorong BUMN/SKPD/lembaga vertikal lainnya menjadi offtaker (menyerap) produk UMKM.

 

Layanan Kas dan Optimalisasi Penggunaan Non Tunai di Ramadhan dan Idul Fitri 2020

KPwBI Prov. Kalsel senantiasa menjaga kecukupan uang tunai untuk kebutuhan puasa dan lebaran, di samping terus mendorong penggunaan transaksi non tunai.

KPw BI Provinsi Kalsel telah menyediakan 2,805 T (terdiri dari Uang Pecahan Besar (UPB) sebesar Rp 2,54 T dan Uang Pecahan Kecil (UPK) Rp 258 M) untuk menjaga ketersediaan uang tunai selama Ramadhan dan Idul Fitri 2020.

Jadwal Layanan Penukaran Uang : 29 April – 20 Mei 2020, di mana penukaran uang oleh masyarakat dapat dilakukan di kantor cabang bank-bank umum yang ada di Kalsel.

Beberapa strategi yang telah dilakukan untuk mendorong transaksi non tunai adalah:

Sosialisasi dan edukasi non tunai melalui media sosial.

Kerja sama BI dengan PJSP dalam mendorong penggunaan QRIS untuk rumah ibadah.

Inovasi QRIS dalam bentuk QRIS Tanpa Tatap Muka.

Perkembangan merchant QRIS yang mencapai 28.759 (24 April 2020).

Beberapa langkah mitigasi yang terus digencarkan adalah :

Melakukan karantina uang setoran bank untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Penerapan Protokol Nasional COVID-19 dalam proses operasional.

Mendorong masyarakat menggunakan fasilitas non-tunai (internet banking, mobile banking, sms banking, APMK, uang elektronik chips base dan server base, dan QRIS).

Berkoordinasi dengan lintas Kementerian, Otoritas dan Lembaga terkait dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kinerja SP pada periode Triwulan I 2020 utamanya pada transaksi RTGS dan SKNBI mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada transaksi RTGS, baik secara volume maupun nominal, mengalami penurunan masing-masing sebesar 15,89% (qtq) dan 17,86% (qtq). Sedangkan pada transaksi SKNBI, baik secara volume maupun nominal, mengalami penurunan masing-masing sebesar 16% (qtq) dan 13,77% (qtq). Selanjutnya, transaksi kartu ATM/debit nasional mengalami penurunan nominal transaksi sebesar 5.3% (qtq) dan kartu kredit turun sebesar 6,76% (qtq).

Secara volume dan nominal, transaksi melalui BI-RTGS mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya dan transaksi melalui SKNBI juga mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya.

Baik kartu ATM/debit dan kartu kredit mengalami kenaikan jumlah kartu, namun mengalami penurunan nominal transaksi. (Rilis Bank Indonesia Prov Kalsel/Mzr)

 65 total views,  1 views today