Home / Daerah / Sang Pemadam Kebakaran Itu Telah Berlalu

Sang Pemadam Kebakaran Itu Telah Berlalu

Guru Zuhdi  (K.H Ahmad Zuhdiannor). (Foto/ist)

Oleh ShodiqurRifqiNur

Banjarmasin, mediaprospek.com–Kota  Banjarmasin  Kalsel, kota besar dengan banyak penduduknya serta rumah yang  padat, sangat rawan dengan datangnya musibah kebakaran.

Salah satu aksi sosial yang akan dikenang masyarakat Banjarmasin adalah ulama kondang justru siap membantu proses pemadaman kebakaran.

Beliau GURU ZUHDI sepertinya mengamalkan ulama bukan sekedar beribadah ritual, mengajarkan ilmu semata, tapi juga turun langsung ke masyarakat dengan berkorban tenaga, harta bahkan nyawa sekalipun.

GURU ZUHDI memiliki kode sandi tersendiri di kalangan orang terdekatnya yakni MAJTA 01 (Majelis Ta’lim) atau PELITA 01. Ini adalah salah satu pesan  GURU ZUHDI yang diingat seorang jamaah BPK/ BALAKAR KAPUAS, Kalteng.

Pernah dalam satu ceramahnya, GURU ZUHDI mengapresiasi kegigihan pemadam dalam membantu memadamkan kebakaran, tidak peduli dengan kepentingan lain, yang penting cepat bisa membantu, jalan sempit gang bisa masuk, mesin digotong, selang naga dikalungkan di leher.

“Relawan berpikir bagaimana itu api cepat teratasi, bahkan kaki saat kepingin cepatnya tidak beralas terinjak pecahan beling, tidak mempedulikan, asal api padam, pantang pulang sebelum benar-benar sudah padam,” kenangnya ucapan dari GURU ZUHDI.

Lanjutnya, setelah selesai, tidak ada mengharap upah, bahkan uang yang ada tidak seberapa dipakai ramai-ramai ke warung, itulah hebatnya jiwa relawan. Ini adalah kisah yang beredar tentang pengalaman GURU ZUHDI yang diceritakan beliau sendiri dalam ikut relawan DAMKAR (Pemadam Kebakaran).

“Aku (ujar Abah Haji GURU ZUHDI) biasa kalo ada kebakaran turun langsung. (Biasa kalau ada kebakaran langsung turun). Pakaianku lengkap juga turun ke tempat kebakaran. Pakai helm, pakai jaket kebakaran dan pakai sepatu bot dan juga tidak ketinggalan bawa rokok beberapa bungkus,” ujar Abah Guru Zuhdi.

Kaena kubagi gasan petugas pemadam nang lain, himung inya dibari roko. (Nanti kubagikan kepada petugas yang lain, senang ia diberi rokok tersebut)

Waktu habis memadamkan kebakaran lalu besisimpun ai (merapikan alat), aku jua rasa panas jadi aku buka ai helm nang kupakai. (Aku juga merasa gerah dan kubuka helm yang kupakai).

Lalu ada petugas pemadam kebakaran lain dari Majta tapi dari personel lain maitihi banar lawan aku (mengamatiku) sambil berucap,

“Pian ne mirip banar lawan GURU ZUHDI nang bebacaan di Masjid Jami Sungai Jingah tu, tapi rasa kada mungkin pulang,” ujar urang tu sambil janak maitihi ku. (Pian ini mirip sekali dengan Guru Zuhdi yang sering berceramah di Mesjid Jami, tapi rasa tidak mungkin,” katanya.

Aku bediam haja. (Aku Diam Saja)

Lalu orang itu berucap lagi, “Pian ne adingnya GURU ZUHDI kah? (Pian ini adiknya Guru Zuhdi kah ?,” katanya lagi

”Aku iih kan ae.”. Aku iakan saja,” kata Guru Zuhdi

Lalu Ia berucap lagi, “Titip salamlah sama GURU ZUHDI dari ulun (saya).” katanya.

Lalu aku jawab, “Inggih kaena ulun sampaiakan salam pian lawan GURU ZUHDI.” (Inggih nanti saya sampaikan salam Anda sama Guru Zuhdi), ” kata Guru Zuhdi.

Han jar aku, bebila-bila kah aku baisi ading nang muhanya mirip wan aku (jamaah pun tertawa). (Nah, kapan-kapan saya punya adik yang mirip sama saya”, kata Guru Zuhdi.

Waktu aku (Abah Haji GURU ZUHDI) tulak (beranfkat) untuk tugas pemadaman, aku umpat (ikut) di mobil Majta.

Nah, waktu tuntung (selesai) pemadaman dan handak bulik (mau pulang) aku cari mobil pemadam dari Majta sudah tidak ada lagi.

Berarti aku ditinggalakannya, kata Guru Zuhdi, rupanya supirnya tidak mengetahui kalau aku tadi umpat (ikut) di mobil itu.

Mobil nang (yang) lain sudah kadadaan (tidak ada) lagi jua, jadi aku mencari ojek ai gasan bulik (untuk pulang).

Dapat ojek, betakun (bertanya) tukang ojeknya, “Handak minta antarakan ka mana pian?” . (mau diantarkan kemana Pian) ?,” ujar tukang ojeknya.

Ujar ku, “Antarkan saya ke belakang Masjid Jami Sungai Jingah.”

Lalu tukang ojeknya menjawab, “Tahu ai ulun, nang parak rumah GURU ZUHDI tu kalo?” (saya tahu yang dekat rumah Guru Zuhdi kan”).

Aku jawab, “Inggih (Ya).” Ujar ku (jamaah tertawa lagi).

GURU ZUHDI berucap, “Aku kalo apinya ganal banar, biasanya aku turun langsung ka sana umpat mamadamkan.” (Aku kalau apinya besar sekali, aku ikut turun juga untuk memadamkan apinya).

Waktu ada api ganal (besar) maka aku meingkuti (memegang) selang juga handak (ingin) manyemprot apinya, petugas yang lain kaya (seperti) itu juga manyemprot.

Tanpa sengaja, ada petugas, mungkin lantaran panik manyemprot, maka banyunya (air) kena kepala aku, sampai tekipai (jatuh) kopiah haji ku,” uajr Guru Zuhdi.

Waktu itu ada petugas yang marah sama petugas ini, Ujarku, “tidak apa-apa karena ia panik juga, jadi tidak melihat ada aku di mukanya.”

Tapi anehnya waktu kopiah haji ku kena semprot melayang pas kena rumah nang tabakar, maka langsung pajah (padam) apinya.

Jadi jar ku, “Beapuah (berkah) juga kopiah haji ku ni langsung pajah (padam) apinya.”

Jadi tuntung (selesai) apinya dapat dipadamkan, aku kesitu lagi mangikih-ngikih (mencari) kopiah ku tadi. Tuhuk (terus dicari) sudah mencari tidak ada lagi kopiahnya.

Padahal jaka (seandainya) dapat, kawa tu mun (bisa itu jika) ada kebakaran rumah, ku timbai (lempar) saja kopiahnya, pajah (padam) apinya, kada (tidak) repot lagi menyemprot, tapi kada (tidak) dapat aku mencari kopiahnya, tuhuk sudah mengikih (sudah dicari berulang-ulang kali).

___

Kini kisah ini tinggal kenangan di hati para pecintanya.

Semoga kita bisa meneladani akhlak Sidin, meamalkan nasehat dan papadah Sidin, memakai ilmu yang diajarkan Sidin, Aamiiin.

Selamat jalan wahai Sang Guru..

#Sabtu9Ramadhan1441H

 82 total views,  1 views today