Home / Daerah / Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Tahun 2020 Berpeluang pada Kisaran 4,5%-4,9%

Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Tahun 2020 Berpeluang pada Kisaran 4,5%-4,9%

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel (KPw BI Kalsel) Amanlison Sembiring, didampingi, Deputi Direktur KPw BI Kalsel, Dadi Esa Cipta dan Kepala Divisi Sistem Pembayaran (SP), Pengelolaan Uang Rupiah (PUR), Layanan dan Administrasi, R. Bambang Setyo P,  pada Rabu, (12/02/ 2020), saat memberikan penjelasan kepada para awak media mengenai beberapa faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Kalsel tahun 2020.( Foto /Mzakir)

Outlook Perekonomian Kalimantan Selatan 2020

 Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel (KPw BI Kalsel) Amanlison Sembiring, didampingi, Deputi Direktur KPw BI Kalsel, Dadi Esa Cipta dan Kepala Divisi Sistem Pembayaran (SP), Pengelolaan Uang Rupiah (PUR), Layanan dan Administrasi, R. Bambang Setyo P,  pada Rabu, (12/02/ 2020), bertempat di Hall Perpustakaan Lantai 4, menggelar temu bulanan bincang bersama media Banjarmasin, dengan tema “Pengendalian Inflasi, Himbauan Bijak Berbelanja dan Sosialisasi QRIS” , kepada para awak media, mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan secara keseluruhan tahun 2020 berpeluang tumbuh meningkat pada kisaran 4,5%-4,9%, lebih tinggi dari prakiraan tahun 2019.

Pimpinan Bank BI Amanlison mengatakan, peningkatan tersebut utamanya didorong ekspor dan konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong perbaikan harga komoditas dan kenaikan UMP. Sedangkan prakiraan peningkatan ekspor didorong oleh perbaikan ekspor batu bara sejalan dengan permintaan Tiongkok yang masih kuat seiring kebutuhan PLTU baru dan adanya perjanjian dagang antara Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA) dan China National Coal Association (C NCA).

Menurut Amanlison, investasi diprakirakan tumbuh melambat seiring telah selesainya beberapa proyek besar pada tahun 2019 di tengah berlanjutnya berbagai proyek infrastruktur dan swasta.

“Pada sisi penawaran, selain kinerja sektor pertambangan yang membaik, juga didukung peningkatan kinerja industri pengolahaan terkait implementasi kebijakan B30. Kinerja sektor Perdagangan, Hotel, dan Restaurant bertahan relatif tinggi terkait berbagai kegiatan kalendar wisata Visit Kalsel 2020 dan kegiatan berskala nasional seperti Hari Pers Nasional. Sedangkan sektor pertanian diprakirakan tumbuh melambat akibat risiko curah hujan di atas normal yang dapat mengganggu produksi pertanian khususnya pada semester 1-2020,” kata Amanlison.

Inflasi

Mengenai Inflasi Amanlison menjelaskan, Inflasi Kalimantan Selatan periode tahun 2019 mencapai 4,01% (yoy) yang masih berada di kisaran target nasional 3,5 +1%. Inflasi tertinggi di tahun 2019 terjadi pada bulan Januari 0,81% (mtm), April 0,93% (mtm) dan Mei 0,90% (mtm) (periode Nataru dan Puasa serta Lebaran). Sementara pada Januari 2020, inflasi Kalsel tercatat sebesar 0,31% (mtm) dan 3, 07 O/ yoy). Inflasi utamanya bersumber dari inflasi kelompok bahan makanan.

“Terdapat tiga kota penghitung inflasi di Kalimantan Selatan, yakni Kota Banjarmasin, Kota Tanjung, dan Kota Kotabaru. Pada Januari 2020 Kota Banjarmasin mengalami inflasi sebesar 0,25% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,57% (mtm). Kota Tanjung mengalami inflasi sebesar 0,43% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,97% (yoy). Kota Kotabaru tercatat mengalami inflasi sebesar 0,68% (mtm),” katanya.

“Di Kalimantan Selatan, Lima komoditas pendorong inflasi terbesar jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu (yoy) adalah beras, ikan gabus, rokok kretek filter, mobil, dan ikan nila, namun jika dibandingkan bulan sebelumnya (mtm) adalah ikan gabus, minyak goreng, rokok kretek filter, mobil dan cabai merah,” ujarnya.

“Adapun Lima komoditas penahan inflasi terbesar jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu (yoy) adalah angkutan udara, bensin, biaya pulsa ponsel, daging ayam ras, dan obat dengan resep, namun jika dibandingkan bulan sebelumnya (mtm) adalah angkutan udara, daging ayam ras, bensin, baju muslim pria dan terong,” tambahnya.

Desain program dalam kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) sesuai Roadmap Pengendalian Inflasi Nasional dan Daerah adalah, Pertama, Keterjangkauan Harga,  melalui Monitoring Surplus-Defisit ketersediaan pasokan melalui koordinasi data Monitoring            harga      PIHPS    kota penghitung   inflasi     dan                Dinas Perdagangan kota nonpenghitung inflasi Memperluas RPK, Toko Tani Indonesia (TTI), Ewarong, termasuk di pasar tradisional maupun aktivasi Pasar/Kios Penyeimbang Operasi pasar      dan sinergi             pengendalian        harga dengan Instansi terkait Monitoring            kesesuaian            HET       di             pasar      baik modern         maupun tradisional Pengawasan distribusi 10 komoditas utama. Pemberdayaan BUMD sebagai penyedia bahan pokok, Kampanye belanja bijak saat HBKN, serta edukasi komoditas subtitusi, kehalalan dan higienitas daging beku.

Kedua, Ketersediaan Pasokan, Peningkatan produksi (melalui perluasan Bahan dan produktivitas), termasuk pencetakan lahan sawah baru dan komoditas hortikultura serta peningkatan frekuensi tanam dari 1x menjadi 2x setahun  dan manajemen      pola                tanam    memanfaatkan   informasi iklim BMKG, Penerapan inovasi tani, antara lain tanam benih langsung (Tabela), pupuk organik dan keramba apung Penyebarluasan               RPL        rumah    tangga,   lingkungan dan instansi/korporasi guna pemanfaatan lahan, Riset dan mendorong desa mandiri benih,  Penembangan pembiayaan sesuai sektor pertanian, Penguatan Cadangan Pangan dan pendirian gudang perintis untuk penyimpanan hasil panen, dilengkapi fasilitas controlled atmosphere storage (CAS) dan cold storage untuk hortikultura/daging

Ketiga, Kelancaran Distribusi melalui Implementasi dan perluasan komoditas Kerja sama Antardaerah (KAD), baik lintas provinsi maupun antar-Kab/Kota di Kalimantan dan daerah lain; termasuk timbal balik surplus Kalimantan ke daerah lain; melalui pengembangan model bisnis kerja sama perdagangan antar daerah dan fasilitasi kerja sama antar daerah, antar lain dengan mengoptimalkan peran swasta dan BUMD. Alokasi Dana Desa untuk memperkuat BUMDes di bidang pangan guna mengurangi rantai distribusi.

Pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk berbasis IoT, termasuk pemanfaatan transaksi nontunai/LKD. Penguatan pemanfaatan Sub Terminal Agribisnis (STA) di setiap Kab/Kota sebagai salah satu hub distribusi komoditas pangan. Mengupayakan berdirinya Pusat Distribusi Regional (PDR)/Pasar Induk di Banjarmasin sebagai sentra perdagangan pangan di Kalsel dan Kalimantan. Pembangunan RPK dan Pasar baru. Meningkatkan infrastruktur jalan, kapasitas pelabuhan, konektivitas tol laut, dan rel kereta api trans-Kalimantan

Keempat, Komunikasi Efektif, melalui, Capacity Building Anggota TPID, Pembuatan materi publikasi dan diseminasi melalui media terkait pentingnya pengendalian inflasi, Kerjasama pemuka agama,tokoh masyarakat       serta ibu rumah tangga dalam edukasi inflasi, Penyusunan Roadmap TPID di seluruh Kab / Kota dan Provinsi. Identifikasi Program — Program Unggulan di seluruh Kab / Kota dan Provinsi.

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Di tahun 2020, perbaikan sektor pertambangan dan kinerja industri sawit berpeluang meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan. Namun sumber baru pertumbuhan ekonomi tetap memerlukan akselerasi guna mendongkarak potensi yang ada.

Akselerasi ekonomi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan perbaikan neraca perdagangan.

Sumber pertumbuhan ekonomi baru yang perlu dioptimalkan guna mendukung sumber pertumbuhan primer adalah hilirisasi agroindustri, industri pengolahan ikan, dan pariwisata alam. Berbagai sumber pertumbuhan baru ini dijalankan dengan ekonomi digital dan ekonomi syariah untuk mempercepat akselerasi dan menjaga kelestarian lingkungan.

Pengembangan Ekonomi

Bank Indonesia berbagai stakeholder berupaya bersama memajukan perekonomian daerah dengan mengembangkan klaster dan UMKM. Beberapa klaster dan UMKM unggulan yang telah dibina adalah Klaster Bawang Merah di Kabupaten Tapin, Klaster Padi Unggul di Kabupaten Tanah Bumbu, Klaster Ikan Air Tawar di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Klaster Udang Basah di Kabupaten Kotabaru, dan Kerajinan Andaman Purun dan Ilung (Ampulung).

Secara umum, target kenaikan produktivitas yang ditetapkan untuk setiap klaster binaan adalah 10% dan tiap klaster telah melampaui target yang ditetapkan, dengan rincian, Pertama,  Klaster Bawang Merah 27,93%, Kedua,  Klaster Padi Unggul yang menerapkan pertanian terintegrasi, Ketiga, Klaster Ikan Air Tawar 11,10%, Keempat, Klaster Udang Basah 31 %, dan Kelima Pengembangan Wisata Kerajinan Andaman Purun dan Ilung (Ampulung) di Desa Banyu Hirang, Kec. Amuntai Selatan. (Ril Bank BI/Mzr)

 

 

 

60 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini