Program Replanting di Kalsel Terancam Gagal ?, Pekebun Harapkan Bantuan Pemerintah

 Banjarmasin, mediaprospek.com–Dalam rangka Koordinasi terhadap upaya pembangunan sektor perkebunan di Kalimantan Selatan khususnya terhadap tanaman karet dan kelapa sawit rakyat yang sudah kurang produktif lagi, karena usia yang sudah tergolong tua atau mencapai 30 sampai 35 tahun. Komisi II DPRD Prov. Kalsel diketuai Imam Suprastowo bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan Prov Kalsel melakukan konsultasi ke Ditjenbun Kementerian Pertanian RI pada Selasa (4/2/2019), dengan materi studi komparasi terkait dengan Program Reflanting (Peremajaan/penanaman kembali-red) Perkebunan Sawit. Rombongan Komisi II di terima oleh Antarjo Dikin selaku Sekdit Dirjenbun Kementan RI.

Imam mengatakan bahwa terhadap hal tersebut berdasarkan hasil penyerapan aspirasi masyarakat yang mengharapkan bantuan pemerintah akan perlunya peremajaan tanaman karet dan sawit rakyat yang mereka miliki. Namun menurutnya, yang menjadi kendala saat ini di Kalimantan Selatan yaitu maraknya keberadaan benih-benih kelapa sawit yang tidak baik dan tidak sesuai dengan ketentuan (tidak memiliki sertifikasi benih_red), sehingga ditakutkan apabila Program Replanting dilaksanakan dengan benih seperti itu, akan mengalami kegagalan yang sangat merugikan bagi para pekebun khususnya kebun rakyat.

Menanggapi hal ini Antarjo Dikin, mengatakan bahwa, terkait dengan permasalahan benih tanaman perkebunan merupakan hal yang telah berlangsung dari waktu yang lama, memang diperlukan suatu sistem pengawasan dari tingkat yang paling awal sampai benih didistribusikan kepada para petani. Agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar dan perlunya penguatan sesegeranya terhadap sistem perbenihan nasional dari awal sumber benih saat diproduksi kemudian didistribusikan kemana saja.

“Sehingga jalur distribusinya terekam oleh sistem baik jumlah maupun penerimanya, untuk meminimalisir adanya benih oplosan yang sengaja dilakukan pihak-pihak yang mengambil keuntungan tanpa memperdulikan kerugian yang diderita para petani ke depannya, jumlah tanaman sawit hidup yang menjadi acuan tingkat keberhasilan program replanting,” kata Antarjo.

“Namun sejauh mana besaran hasil produksi buah sawit tersebut dapat dipanen oleh pekebun sebagai hasil tanaman kelapa sawit yang dengan jangka waktu sekian tahun menunggu berbuah, sehingga apabila benih yang ditanam merupakan benih yang tidak baik, maka akan menjadi sia-sia tanaman yang telah di pelihara tersebut. Saat ini Pemerintah Pusat sudah secara intens untuk menugaskan balai-balai Pengawasan benih dengan melibatkan dinas di daerah untuk mengawal terjadinya penyimpangan tersebut,” tambah Antorjo.

Antarjo menandaskan bahwa, namun tentu saja hal tersebut masih belum optimal berjalan, sehingga perlu ada upaya bersama agar keberhasilan terhadap Program Replanting ini dapat sesuai dengan harapan, karena kelapa sawit merupakan masa depan perekonomian Indonesia dengan berbagai hasil turunannya yang perlu secara bersama-sama kita dorong untuk menjadi sumber-sumber pendapatan bagi masyarakat.

“Permasalahan terkait dengan sistem perbenihan perkebunan sudah sampai dalam objek pengawasan BPK RI khususnya yang terkait dengan sertifikasi benih, sehingga ke depan harapannya bagi para penangkar benih yang sudah teregistrasi dapat dipantau terkait dengan neraca benihnya, antisipasi terhadap benih-benih yang terkontaminasi virus juga sudah menjadi perhatian dari Pemerintah Pusat,” kata Antarjo. (Jali/Mzr/tabloidprospekbanjarmasin)

 169 total views,  2 views today

Check Also

Aparat Hukum Dihimbau Berantas Narkoba agar Bisa Lebih Ditingkatkan Lagi

Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. Suripno Sumas Banjarmasin, mediaprospek.com—Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.