Pertumbuhan Ekonomi Nasional Prakirakan Meningkat Pada Tahun 2020 ini

Kanto Perwakilan BI Kalsel (Foto cdc ulm/istimewa)

 Outlook Perekonomian Kalsel 2020

Banjarmasin, mediaprospek.com—Dalam siaran Persnya Perwakilan kantor Bank Indonesia Kalimantan Selatan menyebutkan Pertumbuhan ekonomi nasional diprakirakan akan meningkat pada tahun 2020 ditopang permintaan domestik, konsumsi, dan investasi. Pertumbuhan yang membaik juga tercatat di sejumlah wilayah NKRI, salah satunya adalah Kalimantan Selatan. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan secara keseluruhan tahun 2020 berpeluang tumbuh meningkat pada kisaran 4,5%-4,9%, lebih tinggi dari  tahun 2019 yang menghadapi tantangan akibat tertahannya kinerja ekspor dan pertambangan batubara. Senin, (30/12/2019).

Peningkatan tersebut utamanya didorong  ekspor dan konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong perbaikan harga komoditas dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP). Sedangkan prakiraan peningkatan ekspor didorong oleh perbaikan ekspor  batu bara  sejalan dengan permintaan Tiongkok yang masih kuat seiring kebutuhan PLTU baru dan adanya perjanjian dagang antara Indonesian Coal Mining Association (ICMA) dan China National Coal Association (CNCA).

Adapun, investasi diprakirakan tumbuh melambat seiring telah selesainya beberapa proyek besar pada tahun 2019 di tengah berlanjutnya berbagai proyek infrastruktur dan swasta. Selain kinerja sektor pertambangan yang membaik, pertumbuhan ekonomi juga didukung peningkatan kinerja industri pengolahaan terkait implementasi kebijakan B30. Kinerja sektor Perdagangan, Hotel, dan Restaurant  bertahan relatif tinggi terkait berbagai kegiatan kalendar wisata Visit Kalsel 2020 dan kegiatan berskala nasional.

Secara keseluruhan tahun 2020, inflasi daerah Kalimantan Selatan diprakirakan tetap terkendali dan berada dalam sasaran inflasi Nasional sebesar 3,0±1% (yoy). Kondisi cuaca yang diprakirakan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2019 menjadi salah satu faktor yang mendukung terjaganya pasokan pangan di daerah Kalimantan Selatan. Sebagaimana diketahui, inflasi pangan di tahun 2019 mengalami anomali cuaca yakni musim kemarau lebih panjang baik di wilayah Kalimantan maupun daerah sentra produksi di luar Kalimantan.

Adapun laju inflasi pada konsumsi rumah tangga diprakirakan lebih rendah atau relatif stabil terutama dipengaruhi oleh daya beli yang relatif stabil dan efek dari perlambatan harga emas dunia. Di sisi lain tekanan inflasi diprakirakan muncul sejalan dengan rencana pemerintah menaikkan beberapa tarif seperti peningkatan tarif cukai rokok.

Adapun beberapa terobosan di tahun 2020 dalam menjaga inflasi komponen Bergejolak (VF) turut melibatkan peran serta Aparatur Sipil Negara (ASN), antara lain ketentuan bagi ASN untuk membeli beras lokal melalui kerjasama BULOG dengan Koperasi/Perusda, mendorong ASN untuk menanam komoditas penyumbang inflasi di pekarangan rumah seperti cabai merah (lombok) dan tomat.

Selain itu perbaikan kualitas data pangan serta pengawasan harga secara berkala akan diterapkan secara intensif guna mengantisipasi perubahan harga di masyarakat, sehingga tindakan antisipasi dapat dilakukan sebelum muncul pergejolakan harga. Stabilitas sistem keuangan di Kalimantan Selatan di tahun 2020 diprakirakan juga terjaga dengan baik.

Non Performing Loan (NPL) tercatat masih dalam batas yang aman, meskipun masih diwarnai risiko penurunan harga komoditas utama. Kredit perbankan Kalimantan Selatan pada tahun 2019 tumbuh tertahan, sementara pada 2020 akan terdorong meningkat seiring dengan turunnya suku bunga dan membaiknya prospek ekonomi.  Sedangkan pada aspek sistem pembayaran, Bank Indonesia akan terus berupaya menggencarkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) atau less cash society melalui berbagai program elektronifikasi dan digitalisasi transaksi pembayaran di tahun 2020.

Hal ini terus diupayakan seiring dengan mulai berlakunya Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang diwajibkan bagi seluruh penyedia layanan pembayaran non tunai yang dimulai 1 Januari 2020. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah elektronifikasi transaksi penerimaan dan pembayaran di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda), meliputi Pemerintah Provinsi (Pemprov), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot).

Selanjutnya, program penggunaan non tunai untuk pembayaran ritel termasuk tempat ibadah seperti infaq di Masjid Sabilal Muhtadin yang menggunakan QRIS dan transaksi pembayaran masyarakat luas. Bank Indonesia juga turut bekerja sama dengan Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) baik bank maupun non bank untuk melakukan kegiatan on boarding kepada merchant yang telah siap implementasi QRIS di mana dari 9.883 merchant yang ada di Banjarmasin, 4.922 merchant di antaranya sudah menggunakan QRIS.

Bank Indonesia akan menggelar berbagai sosialisasi, edukasi dan demonstrasi terkait penggunaan Q$RIS di berbagai kalangan masyarakat.   Melalui refleksi perkembangan dan tantangan perekonomian Kalimantan Selatan sepanjang tahun 2019, Bank Indonesia meyakini perbaikan demi perbaikan akan terjadi di tahun 2020, yang tentunya tidak terlepas dari penguatan sinergi dengan Pemerintah Daerah, OJK, Kanwil Kementerian Keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Khususnya guna mendorong kemajuan bersama. (Rilis bank BI/tabloidprospekbanjarmasin).

 235 total views,  1 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.