Nilai Tukar Petani (NTP) Kalsel Bulan Desember 2019 Naik 1,28 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah

Banjarmasin, mediaprospek.com– Pada Desember 2019 NTP Kalimantan Selatan tercatat 96,72 atau naik 1,28 persen dibanding NTP November 2019 yang mencapai 95,50.Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,23 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,05 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah bersama jajaran, pada saat jumpa pers kepada wartawan Media Cetak, Elektronik dan Online, serta para undangan dari Perwakilan Bank BI dan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD)  Pemprov Kalsel di Aula kantor BPS Banjarbaru mengatakan bahwa hal itu, Rabu (2/1/2020), siang.

Diah mengatakan bahwa pada Desember 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami Desflasi sebesar 0,10 persen, dimana  indeks harga kelompok bahan makanan terjadi penurunan sebesar 0,37 persen begitu juga dengan kelompok sandang dan transportasi sebesar 0,05 persen. Sementara kelompok lainnya mengalami kenaikan berkisar 0,05 – 0,24 persen. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Desember 2019 sebesar 105,87 lebih besar dari dengan NTUP bulan sebelumnya, atau naik 1,15 persen.

Untuk rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) kata Diah, di tingkat petani naik 8,13 persen, dari Rp 5.381,30 per Kg di bulan November 2019 menjadi Rp 5.818,65 per Kg di bulan Desember 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 8,04 persen dari Rp 5.473,48 per Kg di bulan November 2019 menjadi Rp 5.913,81 per Kg di bulan Desember 2019.

Menurut Diah NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM).

“Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada Desember 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 96,72 atau naik 1,28 persen jika dibandingkan NTP pada November 2019 yang mencapai 95,50 persen. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,23 persen,  sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,05 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga juga turun 0,10 persen dan indeks BPPBM naik 0,07 persen,” kata Diah.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Desember 2019, terjadi kenaikan nilai NTP gabungan disebabkan naiknya NTP subsektor tanaman pangan 2,20 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 2,46 persen, subsektor peternakan 0,01 persen dan subsektor perikanan 0,48 persen. Sedangkan subsekstor tanaman hortikultura turun 0,81 persen,” ujar Diah.

Diah memaparkan bahwa Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani.  Pada Desember 2019, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 1,23 persen dibandingkan November 2019, yaitu dari 126,19 menjadi 127,74. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik 2,16 persen, subsektor hortikultura turun 0,62 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 2,42 persen, subsektor peternakan turun 0,12 persen, dan subsektor perikanan naik 0,03 persen.

“Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Desember 2019, Ib gabungan mengalami penurunan 0,05 persen dibandingkan dengan Ib November 2019, yaitu dari 132,14 menjadi 132,07. Penurunan Ib ini terjadi dibeberapa subsektor. Subsektor tanaman pangan turun 0,04 persen, subsektor perkebunan rakyat turun 0,04 persen, subsektor peternakan turun 0,13 persen, dan subsektor perikanan turun 0,45 persen, Sedangkan subsektor hortikultura naik 0,19 persen,” Jelas Diah. (Ais/Mzr)

 210 total views,  2 views today

Check Also

Aparat Hukum Dihimbau Berantas Narkoba agar Bisa Lebih Ditingkatkan Lagi

Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. Suripno Sumas Banjarmasin, mediaprospek.com—Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.