Hadirnya Bandara Baru, Perekonomian Kalsel Diharapkan Tumbuh Diatas 6 Persen

Bandara International Sjamsuddin Noor yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo 18 Desember 2019 (Foto Jay/Humas/Niaga Asia)

Banjarmasin, mediaprospek.com–Herawanto dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada Peresmian Bandara Internasional Syamsudin Noor Rabu, 18 Desember 2019 lalu, mengatakan bahwa selama satu dekade terakhir, kinerja perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan ditandai dengan ketergantungan yang tinggi pada komoditas sumber daya alam (SDA) khususnya komoditas di subsektor pertambangan dan perkebunan.   Ketergantungan yang tinggi pada SDA tersebut sangat rentan terhadap gejolak harga komoditas dunia dan kondisi ekonomi negara mitra dagang, selain dampaknya yang kurang baik terhadap lingkungan.

Herawanto mengatakan bahwa untuk dapat keluar dari “jebakan” ketergantungan SDA dimaksud, diperlukan transformasi strategi ekonomi menuju berbasis industri yang dapat mengolah sumber daya alam yang bernilai tambah tinggi (hilirisasi) dan juga termasuk menggali sumber pertumbuhan ekonomi baru. Berdasarkan hasil riset Growth Strategy Kantor Perwakilan BI Kalsel yang juga notabene sejalan dengan RPJMD Kalsel (20202025), dapat diidentifikasi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Kalsel, terutama yang bersumber dari manufaktur olahan produk perkebunan sawit dan turunannya (berbasis CPO), industri perikanan, pariwisata, ekonomi syariah dan ekonomi kreatif (berbasis UMKM). “Dengan adanya transformasi ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi SDA dan sumber pertumbuhan ekonomi baru dimaksud diharapkan ekonomi Kalsel dapat tumbuh di atas 6 persen, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, mendorong perolehan devisa dan perbaikan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” harap Herawanto.

Untuk implementasi strategi pengembangan ekonomi dimaksud, investasi menjadi faktor kunci penentu arah pertumbuhan, dan salah satu prasyarat utama investasi adalah tersedianya kualitas infrastruktur yang memadai.

Herawanto menjelaskan bahwa hadirnya Bandara Internasional Syamsudin Noor menjadi momentum awal yang sangat baik dan akan berdampak positif pada pembangunan dan perekonomian daerah Kalsel secara keseluruhan. Sebagai pintu gerbang di Tanah Banua, keberadaan bandara dimaksud diyakini dapat mendorong sektor pariwisata sebagai sektor andalan ekonomi baru daerah, dan secara khusus peranannya dalam menyongsong tema “Visit   Kalsel   Year   2020”.  Sebagaimana diketahui, pariwisata merupakan sektor yang mempunyai keterkaitan (linkages) yang besar baik ke sektor hulu seperti sektor pertanian, perikanan, transportasi, dan lain-lain maupun ke sektor hilir seperti, industri makanan jadi, perhotelan, restoran dan lain-lain. “Dari segi spasial, Kota Banjarmasin dan Banjar Baru akan memperoleh dampak positif langsung dengan adanya bandara baru dimaksud, terutama melalui peningkatan kinerja sektor jasa,” tandas  Herawanto.

“Khususnya pariwisata, perdagangan, transportasi dan komunikasi. Prospek potensi lainnya adalah pengembangan ekonomi syariah di Kalsel seperti Halal Tourism yang dapat dikembangkan lebih baik lagi di masa mendatang dengan adanya bandara internasional dimaksud. Dalam hal ini, konektivitas ekonomi dengan negara-negara mitra dagang. Selain itu, potensi pemasaran produkproduk UMKM Kalsel semakin terbuka luas sejalan dengan adanya kelancaran jalur transportasi dan distribusi,” kata Herawanto.

“Kami dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan mengucapkan Selamat atas terselesainya pembangunan Bandara Internasional Syamsudin Noor, yang nantinya diharapkan dapat menjadi pintu gerbang di Tanah Banua khususnya dan Kalimantan pada umumnya,” ujar Herawanto.

“Beroperasinya bandara dimaksud juga diharapkan dapat menjadi pemicu semangat   untuk terus memperluas pembangunan dan meningkatkan kualitas infrastruktur dan konektivitas di Kalsel, terlebih dengan keberadaan calon IKN/ibukota negara baru di Kalimantan Timur, yang berdekatan dengan wilayah Kalsel,” jelas Herawanto.

“Namun demikian, komitmen dan kontribusi untuk memajukan perekonomian Kalsel melalui pembangunan infastruktur konektivitas membutuhkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak baik dari aspek teknis (regulasi/perizinan, pertanahan, dan lain-lain) dan dari aspek pembiayaan. Untuk pembiayaan khususnya, karena keterbatasan postur APBD dan APBN dalam pembangunan infrastruktur dimaksud, kreativitas dan fleksibilitas untuk mencari solusi alternatif di antaranya melalui skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), kerja sama dengan pihak swasta dan sumber pembiayaan lainnya,”papar Herawanto.

“Akhir kata, semua kerja keras ini tentu membutuhkan koordinasi yang erat baik lintas sektor maupun lintas wilayah baik dari awal perencanaan hingga implementasinya nanti, hingga hasil akhirnya nanti dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan bersama dalam wadah NKRI,” Akhir Herawanto dalam sambutannya. (Humas BI/Mzr)

 264 total views,  2 views today

Check Also

Mengungkap Misteri Indahnya Lagu Banjar lewat Bedah Buku Biografi Anang Ardiansyah

Banjarmasin, mediaprospek.com – Dua Tokoh berbeda Sabtu siang (19/09/2020) mengupas tuntas buku biografi salah satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.