Pernikahan Usia Dini di Kalsel Menurun

 

(Foto mzakir)

Banjarmasin, mediaprospek.com–Pernikahan usia dini di Kalsel sudah mengalami penurunan, namun harapannya agar tidak ada lagi. Karena luar biasa dampak negatifnya. Tentu saja dengan dukungan dan dengan melakukan upaya sosialisasi-sosialisasi dari semua pihak, siapapun yang terkait, dengan upaya untuk menurunkan kasus pernikahan anak, tentu saja pencegahannya akan menjadi hal-hal yang sangat diperlukan oleh Bangsa ini. Hal itu dikemukakakan oleh Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PK), Hj. Raudatul Jannah, dalam jumpa Pers di Gedung PWI Kalsel, Selasa (17/12) siang

(Foto Anas Aliando)

“Memang angkanya sudah menurun, tapi untuk lebih jelasnya kan itu ranahnya P3A yang lebih tahu ada datanya, saya tahu kasusnya itu di Kalsel sudah menurun dan bergeser. Namun masih pada skala yang menjadi fokus perhatian kita adalah untuk bisa lebih menurunkan angkanya lagi, karena apa, karena pada usia anak yang masih muda kalau dinikahkan tentunya belum siap secara fisik mental untuk berkeluarga dan mempunyai keturunan,” kata Acil Odah sapaan Hj. Raudatul Jannah akrab Ketua TP PKK Kalsel ini.

“Untuk memiliki keturunan, kalau dia sendiri saja tidak siap, karena belum matang, nanti dalam mendidik, memberikan makan dan melindungi anaknya, tentu saja belum siap juga. Otomatis anak ini kan tidak terlalu menerima sentuhan yang baik dari orang tua. Nanti suatu saat kalau dia dewasa pun, akan demikian juga dan anaknyapun otomatis tidak akan bersekolah. Kalau dia menikah setelah selesai sekolah, Insya Allah ke depannya akan bisa jadi orang yang berhasil, paling tidak bisa mandiri, ekonominya juga terkecukupi, tetapi kan kalau dia putus sekolah, ini pasti akan berdampak terhadap nanti pendapatan dia di usia dewasa, “jelas Acil Odah.

“Dan yang namanya menikah pada usia anak tentu saja belum matang secara mental. Pemikiran belum matang, otomatis ego sentrisnya kan masing-masing ada, kalau dia menikah di usia anak, tentu saja akan berimbas pada kasus perceraian,” tambah Acil Odah.

“Ibarat kata bahasa Banjar “Kesungsungan” (ke pagi an_red) kawin. Perjalanan di rumah tangganya ini kan panjang, untuk penyesuaiannya pun karena masih ada ego masing-masing, otomatis kalau ada masalah dia tidak bisa memikirkan bagaimana jalan keluarnya, sehingga nanti perceraianlah ujung-ujungnya. Kalau terjadi perceraian maka anak lagi yang menjadi korbannya. Nanti si anak yang jadi korban ini biasanya akan jatuh pula pada pergaulan yang salah, kemudian juga bisa pada narkoba, generasi kita akan hilang. Hilang dalam artian bukan fisiknya yang hilang, namun hilang secara kemampuan untuk bisa menikmati hasil pembangunan, untuk bisa berkontribusi terhadap pembangunan itu sendiri,” beber Acil Odah.

Ditanyakan apa harapan dari momentum HKSN di Kalsel ? Acil Odah menjawab, “Tentu saja harapan kita dengan momentum HKSN 2019 adalah ini berkah bagi Kalsel, kemudian juga kita ingin menunjukkan seperti apa masyarakat di Kalsel dengan tata kramanya, dengan kearifan lokalnya dan dengan kuliner, budaya dan sebagainya. Intinya kita ingin orang lain tahu bahwa ini lah keramahan dan budaya orang Kalsel. Kemudian juga HKSN bukan awal dan akhir. Kita ingin berlanjut, dalam artian kita harus tetap selalu satu kesatuan, satu komitmen, satu konsestensi untuk bisa berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat Kalsel melalui kekompakan, kepedulian dan kegotong-royongan, yang harus selalu kita upgrade lagi, Kekompakan, kegotong-royongan, harus kita lakukan upaya-upaya peningkatan lagi,” tandasnya. (Ais/Mzr)

 337 total views,  1 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.