NTP Kalsel Naik 1,06 Persen

Perkembangan Nilai Tukar Petani Dan Harga Produsen Gabah Bulan November 2019

 Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah SE. MP  bersama jajaran, pada saat jumpa pers kepada wartawan media cetak, Elektronik dan online, serta para undangan dari Perwakilan bank BI dan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD)  Pemprov Kalsel di Aula kantor BPS Banjarbaru mengatakan bahwa pada November 2019 Nilai Tukar Petani  (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 95,50 atau naik 1,06 persen dibanding NTP Oktober 2019 yang mencapai 94,49.Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,32 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik  0,26 persen, Selasa (2/12/2019), siang.

Diah mengatakan bahwa pada November 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami Inflasi sebesar 0,28 persen, dimana  indeks harga kelompok bahan makanan terjadi kenaikan terbesar 0,55 persen. Sementara kelompok lainnya naik berkisar 0,08 – 0,16 persen. Sedangkan untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan November 2019 sebesar 104,66 lebih besar dari dengan NTUP bulan sebelumnya, atau naik 1,13 persen.

Selanjutnya Diah mengatakan bahwa rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 3,16 persen, dari Rp 5.216,33 per Kg di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.381,30 per Kg di bulan November 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,05 persen dari Rp 5.311,40 per Kg di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.473,48 per Kg di bulan November 2019.

“Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM),” kata Diah.

“Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada November 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,50 atau naik 1,06 persen jika dibandingkan NTP pada Oktober 2019 yang mencapai 94,49 persen. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,32 persen,  sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik lebih kecil 0,26 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga naik 0,28 persen dan indeks BPPBM naik 0,19 persen,” ujar Diah.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada November 2019, terjadi kenaikan nilai NTP gabungan disebabkan naiknya NTP subsektor tanaman pangan 1,06 persen, subsektor tanaman hortikultura naik 0,83 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 1,67 persen, subsektor peternakan naik 1,22 persen. Sedangkan subsekstor perikanan turun 0,14 persen,” tandas Diah.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani.  Pada November 2019, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 1,32 persen dibandingkan Oktober 2019, yaitu dari 124,54 menjadi 126,19. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik 1,28 persen, subsektor hortikultura naik 1,20 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 2,01 persen, subsektor peternakan naik 1,36 persen, dan subsektor perikanan naik 0,11 persen.

Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada November 2019, Ib gabungan mengalami kenaikan 0,26 persen dibandingkan dengan Ib Oktober 2019, yaitu dari 131,80 menjadi 132,14. Kenaikan  Ib ini terjadi seluruh subsektor.  Subsektor tanaman pangan naik 0,22 persen, subsektor hortikultura naik 0,37 persen,  subsektor perkebunan rakyat naik 0,34 persen, subsektor peternakan naik 0,14 persen, dan subsektor perikanan naik 0,25 persen.

Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Pada November 2019 NTP-P sebesar 93,88.  Pada bulan ini NTP-P naik 1,06 persen. Pada bulan ini It terjadi kenaikan sebesar 1,28 persen , sementara Ib naik hanya 0,22 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan November 2019 sebesar 125,16 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 133,33 sehingga NTP-P masih dibawah 100. It pada November 2019 terjadi kenaikan secara gabungan sebesar 1,28 persen.

Indeks harga yang diterima kelompok padi terjadi kenaikan 1,40 persen, dan kelompok palawija naik 0,22 persen. Naiknya kelompok padi karena musim panen padi lokal antara lain di Kabupaten Tanah Laut, Banjar dan Barito Kuala sudah berakhir, dan transaksi untuk gabah sudah banyak dengan kualitas usang (gabah sudah disimpan lebih dari 3-4 bulan), sehingga cenderung terjadi kenaikan harga, begitu juga harga gabah kualitas unggul juga naik. Kelompok palawija terutama disebabkan naiknya harga komoditi jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Indeks yang dibayar petani (Ib) November 2019 naik lebih besar 0,22 persen,  terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,24 persen, dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) terjadi kenaikan hanya 0,19 persen.

Subsektor              Hortikultura          (NTP-H) NTP-H bulan November 2019 mencapai 107,61 persen. Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 0,83 persen. Hal ini disebabkan it naik 1,20 persen menjadi 142,57 pada bulan November 2019, sedangkan Ib naik 0,37 persen menjadi 132,49.  Indeks It lebih besar dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  diatas 100.

Naiknya It November 2019 terutama karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok buah-buahan sebesar 2,08 persen dan kelompok tanaman obat naik 1,22 persen. Kenaikan It kelompok buah-buahan karena naiknya harga jeruk dan mangga. Sedangkan kelompok tanaman obat terjadi kenaikan 1,22 persen terutama kenaikan harga jahe dan kencur. Kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,43 persen dan indeks BPPBM naik relatif kecil 0,03 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada November 2019, NTP-TPR mencapai 79,49 atau naik 1,67 persen. Hal ini terjadi karena It naik 2,01 persen menjadi 106,65, dan Ib naik lebih kecil hanya 0,34 persen menjadi 134,17 pada November 2019.  Indeks yang diterima petani (it) November 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100.

Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 104,55 pada Oktober 2019  menjadi  106,65 pada November 2019, terutama karena naiknya harga  kelapa sawit dan karet.  Sedangkan kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,32 persen, dan indeks BPPBM naik 0,40 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan November 2019, NTP-TR  mencapai 108,61 atau naik 1,22 persen. Hal ini terjadi karena  It naik  1,36 persen, sementara Ib hanya naik sebesar 1,22 persen. Kenaikan It bulan November 2019 karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar  1,30 persen, kelompok ternak kecil 0,66 persen, kelompok unggas naik 1,35 persen, dan hasil ternak naik 1,49 persen. Kenaikan  terjadi pada Ib yang disebabkan oleh naiknya indeks  konsumsi rumah tangga  0,22 persen dan indeks BPPBM naik 0,04 persen.  Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100.

Subsektor Perikanan (NTNP) Pada November 2019, NTNP mencapai 109,40  atau turun 0,14 persen.  Hal ini karena It hanya naik 0,11 persen, sementara Ib naik lebih besar mencapai 0,25 persen. Kenaikan It pada bulan November 2019 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap secara rata-rata hanya naik 0,01 persen, tetapi kelompok perikanan budidaya naik lebih besar mencapai 0,38 persen. Kenaikan Ib disebabkan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,30 persen, dan indeks  kelompok BPPBM naik 0,14 persen. Indeks It subsektor perikanan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN-P di atas 100.

Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada November 2019, NTN mencapai 111,56 atau turun 0,22 persen. Penurunan NTN karena indeks yang diterima (It) hanya naik 0,01 persen, sedangkan Ib terjadi kenaikan lebih besar 0,23 persen. Kenaikan It karena kelompok penangkapan perairan umum naik 2,01 persen, walaupun kelompok penangkapan laut turun 0,74 persen. Kenaikan pada Ib dikarenakan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,30 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,07 persen. Indeks It kelompok penangkapan ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN di atas 100.

Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada November 2019, NTPi mencapai 103,60 atau naik 0,07 persen. Indeks yang diterima petani (It) naik 0,38 persen dan kenaikan tersebut terjadi karena It kelompok budidaya air tawar naik 1,15 persen, sementara kelompok budidaya air payau turun 1,70 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen. Kenaikan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT naik 0,30 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,34 persen. Indeks It kelompok budidaya ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTPi diatas 100.

Perbandingan Antar Provinsi Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada November 2019 adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 115,81 dan terendah Provinsi Bangka Belitung dengan NTP sebesar 79,97. Provinsi Kalimantan Selatan bulan November 2019 berada diurutan ke 23, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 104,10.  Pada bulan ini terdapat 18 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 15 provinsi mengalami penurunan NTP.

Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Riau yang naik 2,34 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bangka Belitung yang turun 3,07 persen. Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan November 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 97,70 persen dikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 95,50 persen, Kalimantan Timur sebesar 94,52 dan Kalimantan Barat 93,86 persen.

Dilihat besarnya kenaikan NTP, Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan tertinggi 1,06 persen, diikuti Provinsi Kalimantan Tengah naik 0,36 persen. Sedangkan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur mengalami penurunan masing-masing turun 0,11 persen dan 0,38 persen.

Inflasi    Pedesaan Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan.  Pada November 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi inflasi sebesar 0,28 persen. Inflasi perdesaan terutama terjadi karena naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 0,55 persen, sedangkan kelompok lainnya terjadi kenaikan berkisar antara 0,01 – 0,16 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) NTUP pada November 2019 mencapai 104,66 atau naik sebesar 1,13 dibanding dengan bulan sebelumnya yang mencapai 103,49. Pada bulan ini It naik 1,32 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM naik  0,19 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 126,19 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) yang mencapai  120,57 sehingga NTUP masih diatas 100.

NTUP mencermin kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya nilai produksi dengan biaya produksi. NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan. Bila dilihat dari subsektornya, diketahui  4 subsektor mengalami kenaikan NTUP, 1 subsektor mengalami penurunan. NTUP tertinggi terjadi pada subsektor perikanan secara gabungan dengan nilai NTUP sebesar 125,80 atau perikanan tangkap dengan nilai NTUP sebesar 128,73. Dilihat dari Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang mencapai 1,60 persen. Sedangkan subsektor lainnya naik/turun berkisar antara 0,03- 1,32 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah selama November 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 54 observasi.

Dibulan November 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.500,00 per kilogram dengan varitas Ciherang terjadi di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin. Harga tertinggi mencapai Rp 6.863,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dengan varitas Unus Mayang.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 3,16 persen, dari Rp 5.216,33 per Kg di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.381,30 per Kg di bulan November 2019 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi masih lebih banyak varitas lokal seperti siam mayang, siam pandak dan beberapa jenis siam lainnya.

Pasokan gabah lokal dari hasil panen sudah mulai berkurang, sehingga harga gabah terjadi kenaikan, dan varitas unggul dikabupaten yang sudah berakhir masa panen cenderung harga naik . Hal ini menyebabkan secara harga rata-rata gabah kualitas GKP di bulan November 2019 terjadi kenaikan.  Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,05 persen dari Rp 5.311,40 per Kg di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.473,48 per Kg di bulan November 2019.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan November 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi kenaikan relatif kecil persentase kadar air, sedangkan kadar hampa/kotoran terjadi penurunan dari bulan sebelumnya. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan November 2019  masing-masing sebesar 14,18 persen dan 3,31 persen. (Ais/Mzr/tabloidprospekbanjarmasin)

 350 total views,  4 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.