Obyek-Obyek Wisata Bali Banyak Dibangun Oleh Masyarakat Adat

Banjarmasin, mediaprospek.com— Ternyata Obyek-Obyek Wisata di Bali banyak dibangun oleh masyarakat adat, Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemkab secara instens terus melaksanakan  pembinaan-pembinaan kepada masyarakat adat dan melaksanakan pembinaan-pembinaan kepada kelompok sadar wisata atau yang terkait dengan ke pariwasataan. Kasubag Tata Usaha, Kepegawaian, Humas dan Protokol, DPRD Prov. Bali,  I Kadek Putra Suwantara didampingi jajaran Wartawan Press room pada acara kunjungan studi komparasi Sekretariat DPRD Kalsel bersama wartawan, memberikan gambaran secara umum jawaban atas beberapa pertanyaan, mengenai seputar kepariwisataan di Bali, di ruang Banmus Gedung DPRD Prov. Bali, senin (14/10), siang.

Kadek mengatakan bahwa beberapa Kab/Kota juga secara instensip melakukan pendekatan-pendekatan kepada pihak-pihak yang terkait. Tentunya dengan memberikan kepastian hukum baik itu berupa Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup) atau Peraturan Walikota (Perwali). Sehingga adanya kejelasan, misalnya saja untuk tempat parkir, di satu sisi pemerintah telah menominal hanya Rp. 2.000,-, namun jika tidak diatur dan tidak diawasi, bisa saja menjadi Rp. 5.000,- dan lain sebagainya.

“Tentunya untuk menjelaskan secara detail hal ini bukan kafasitas saya ya, katanya, namun secara umum dapat saya gambarkan, bahwa obyek-obyek wisata yang berkembang di Bali sebagian besar merupakan aset dari desa. Jadi itu merupakan tanah milik bersama atau milik desa dan sudah disepakati oleh warga desa,” katanya.

“Sehingga tidak ada konflik kepentingan atau implikasi hukum, karena pengembangan-pengembangan pariwisata sudah merupakan kesepakatan bersama dan secara umum sebagian besar fasilitas-fasilitas tanah maupun lainnya merupakan kekayaan aset desa adat, milik adat dan sudah disepakati bersama. Tinggal tugas pemerintah untuk meningkatkan sarana dan prasarananya saja lagi,” jelas Kadek.

Di Prov. Bali ini banyak sekali obyek-obyek wisata yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat adat itu sendiri. “Selama ini obyek-obyek wisata yang ada di Bali sepengetahuan saya, katanya, tidak ada obyek-obyek wisata yang bermasalah, karena semua itu berdasarkan kesepakatan desa dan kesepakatan masyarakat yang ada tinggal di wilayah desa tersebut,” tambah Kadek.

Kalau dilihat secara garis besar untuk pariwisata yang berkembang di Bali sebagian besar diciptakan atau dikriet oleh masyarakat itu sendiri. Misalnya seperti obyek wisata Pantai Kute dan Pantai Pandawa. Itu memang gagasan murni dari masyarakat, sehingga ketika masyarakat mengkriet atau menciptakan obyek wisata baru, masyarakat mendukung penuh, baru pemerintah tinggal mempolesnya saja lagi.

“Saya sangat mengapresiasi, masyarakat kita di Bali sangat kreatif, terutama dalam menciptakan peluang-peluang kepariwisataan, karena banyaknya bermunculan obyek-obyek wisata yang baru,  tentunya sangat didukung oleh pemerintah. Sama halnya seperti di tempat saya sendiri ada air terjun yang belum diolah, telah dimunculkan oleh masyarakat dan dishare di media massa, di media sosial di Face Book, Instagram dan lainnya. Dan tentunya banyak juga media-media cetak maupun elektronik yang memfolow up, sehingga bisa tambah muncul jadinya,” ujar Kadek.

“Jadi, memang secara garis besar kebanyakan obyek-obyek wisata itu dimunculkan dan dikriet oleh masyarakat adat sendiri. Apalagi seperti kita ketahui bahwa kewenangan dari kabupaten dalam menjaga atau memoles, adalah kewenangan langsung, karena kita ketahui bahwa hasil-hasil dari pariwisata terutama pajak hotel dan restoran, itu merupakan ranah kewenangan Kab/Kota,” lanjut Kadek.

“Nah tentunya peran media saya kira sama, media cetak dan elektronik sangat membantu, istilahnya membuat obyek wisata itu menjadi terkenal, namun roh dari semua itu secara umum adalah memang kreasi dari masyarakat,” katanya.

Terkait dengan obyek pariwisata yang sudah disebutkan tadi, memang masyarakat di Bali khususnya lebih banyak mengembangkan desa wisata sekarang. Jadi dari pengembangan obyek wisata yang sudah ada misalnya penataan air terjun, masyarakat sendiri yang lebih dahulu memviralkan, setelah ada peninjauan pemerintah kembali mempublikasikan, termasuk desa adat tradisional Panglimpuran.

Hampir seluruh dunia tujuan wisatanya adalah Bali, namun untuk pengembangan wisata, Pemerintah Prov. Bali tidak terbelenggu di Bali saja, tetapi juga mencari informasi atau belajar ke luar daerah. “Kemarin kita ada kunjungan Press Tour ke kota Makassar, Surabaya dan lainnya, karena tidak mungkin di Bali itu sempurna. kita juga banyak ke luar kota, belajar adat istiadat dan banyak hal-hal yang perlu digali lagi,” imbuhnya.

“Setiap komporasi yang kita laksanakan, kita serap apa-apa yang bagus dalam menjalin hubungan antara sekretariat dan media. Kami juga siap menerima masukan  yang akan kami sampaikan ke pimpinan dan kalau bisa kita dukung dengan program dan anggaran, “katanya.

Pada Desa Tenganan di Kab. Karang Asem, jarak tempuhnya kurang lebih perjalanan 1 (satu) jam. Itu adalah bentuk-bentuk tradisi yang ada di Bali dan menjadi obyek pariwisata tradisional, termasuk juga obyek wisata modern seperti pantai Pandawa yang sedang digemari wisatawan baik nusantara  maupun internasional. Ini merupakan sebuah gagasan dari masyarakat setempat dan yang lagi booming bahkan Kementerian Pariwisata sedang mempublisnya adalah patung Garuda Wisnu Kencana yang dekat lokasinya, kurang lebih perjalanan 40 menit. “Patung itu cukup lumayan tingginya dari permukaan lautan dan menjadi obyek wisata baru-baru ini dan telah diresmikan oleh Presiden Jokowi, “ kata Kadek.

“Jadi, di Bali ini cukup banyak obyek pariwisatanya. Kemana-mana dekat dengan obyek pariwisata. Dengan waktu satu hari keliling bisa mengunjungi sejumlah pariwisata yang mungkin diharapkan dari para pengunjung,” ujar Kadek.

Prov. Bali terdiri dari delapan (8) Kabupaten dan satu  Kotamadya. Dimana-mana dekat dengan obyek wisata, seperti pantai, gunung dan jarak tempuhnya pun tidak terlalu jauh, paling jauh 1 1/2  jam ke obyek wisata.

“Jadi sebenarnya bagi para pengunjung, bapa/ibu terlalu singkat waktunya 3 hari itu untuk berkunjung ke Bali, seharusnya satu minggulah disini sebagai refresing dari pekerjaan, tentunya dengan difasilitasi oleh DPRD nya, gurau Kadek.

“Secara umum, kami di Bali sangat tergantung dari sektor pariwisata, namun untuk kewenangan Provinsi sama seperti halnya di Kalsel, kalau kami di Provinsi Bali sektor pendapatan yang paling banyak itu adalah dari PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor)  dan tentunya Gubernur terus berusaha untuk menggali sektor-sektor yang lain dengan merancang sebuah aturan yang akan mengenakan atau menarik kontribusi dari sektor Pariwisata ini,” ungkap Kadek.

“Wacananya ke depan setiap wisatawan yang datang ke Bali  akan dikenakan kontribusi sebesar 10 dolar, namun itu baru rencana. Kalau rencana itu berjalan,  tentunya akan digunakan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga budaya yang ada di Bali ini,” kata Kadek.

Karena Roh dari pariwisata yang ada di Bali adalah adat istiadat dan kebudayaan. Sejalan dengan itu Gubernur Bali juga telah menetapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Desa adat. Dulu sebelumnya disebut dengan Desa Berkrama, namun karena disesuaikan  dengan tata pusat agar mempunyai kekuatan dan kepastian hukum maka diubahlah, disesuaikan hingga akhirnya menjadi Perda Desa Adat.

Secara umum Desa Adat itu merupakan bentuk susunan organisasi yang ada di desa. Ada salah satu desa yang setingkat dengan adanya Kayangan Dige, Kayangan Dige itu dikarenakan adanya keterikatan masyarakat yang diikat oleh tempat persembahyangan.

Nah mengenai Desa Adat inilah, untuk menjaga kesinambungan, Gubernur Bali melalui program-programnya dalam memelihara kultural desa adat. Memberikan bantuan secara rutin setiap tahunnya untuk pengembangan budaya dan lain sebagainya, sehingga roh dari Desa Adat itu, kegiatan aktifitasnya tetap terjaga dengan baik. “Karena di satu sisi pariwisata sangat mengalami proses yang begitu cepat. Kita harus tetap menjaga adat istiadat dan budaya dan disatu sisi modernisasi juga mengikuti  kita. “Dan Adanya Balancing (Keseimbangan_red), kita tidak menutup perkembangan dari luar, namun disisi lain kita harus juga tetap memperkuat adat istiadat yang ada di Bali ini,” ungkap Kadek.

Desa Panglipuran adalah merupakan desa adat yang unik. Tatanan kehidupan bermasyarakatnya bisa dilihat dari kesamaan, kalau di Bali namanya angkul-angkul, kalau istilahnya di Indonesiakan yang berarti pintu gerbangnya sama, mau yang kaya atau pun miskin sama, bentuknya sama dan bahannya  juga sama.

“Disamping juga pariwisata yang memang sudah terkenal besarnya seperti Ubud. Kalau mau berkunjung ke Ubud tempatnya juga dekat juga dari kota Denpasar ini. Dan kalau oleh-oleh untuk keluarga bisa bapa-bapa, ibu-ibu meninjau Pasar Seni Sukawati dengan menempuh perjalanan 40 menit,” katanya.

“Sebenarnya saya sangat berharap kepada Bapa-bapa daripada pulang berat-berat membawa uang, agar supaya ringan, lebih baik belanjakanlah saja disini, sehingga bisa meningkatkan pendapatan UMKM kita “katanya sambil tersenyum bergurau disambut riuh tawa para wartawan press room Kalsel, hehehe.

“Di Prov. Bali ini juga sedang digalakkan tentang penanggulangan sampah plastik. Tentang pembatasan penimbunan sampah plastik merupakan suatu terobosan yang sangat baik, karena seperti diketahui sampah plastik hancur terurai sangat lama sekali, disamping itu juga akan berdampak sangat kurang baik terhadap pariwisata,” lanjutnya.

Dengan terobosan ini Gubernur Bali telah menetapkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang tentunya akan berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata. Disisi lain, juga telah menetapkan Peraturan Daerah tentang Desa Adat. Bahwa desa adat merupakan roh dari pariwisata di Bali, terjadi karena interaksi baik itu budaya, seni dan sebagainya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

“Dengan ajangnya desa adat, kehidupan budaya yang berkembang, tentunya kita berharap semakin hari pariwisata semakin baik, sehingga Bali sebagai destinasi tujuan wisata masih tetap sebagai prioritas sebagai kunjungan,” katanya.

Komang Suparta dari wartawan antara selaku Ketua Forum Wartawan DPRD Bali (FORWARDB),  menambahkan, bahwa pada intinya dukungan juga datang dari pemerintah dan media. Di Bali sendiri, media cetak, elektronik serta Online, sekarang seiring dengan berkembanya media online. Apa yang dikatakan Pa Kadek tadi ada sebuah obyek pariwisata yang dibangun oleh masyarakat adat itu sendiri. “Jadi lebih banyak liputan media ke obyek pariwisata itu,” ungkapnya.

“Karena kita tahu bahwa pariwisata menjadi andalan dari penghasilan Prov Bali. Masyarakatnya hidup sebagian besar dari pariwisata itu sendiri, sehingga tradisi-tradisi tetap dijaga seiring dengan kebudayaan-kebudayaan di Bali ini, yang rohnya juga berasaskan dari ajaran agama Hindu. Sehingga ada, atau  tidak ada, tetap juga budaya itu berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu contohnya bangunan ini (ruangan Banmus DPRD Bali_red), adalah hasil arsitektur Bali. Bapa ibu bisa lihat bentuk-bentuk bangunannya, Inilah adalah salah satu contoh dari bangunan arsitektur Bali,” jelasnya.(Ais/Mzr/ tabloid prospek banjarmasin)

 

 894 total views,  2 views today

Check Also

Wakil Rakyat Himbau Masyarakat Sukseskan Pilkada Serentak

(Ist) Banjarmasin, mediaprospek.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan mengimbau kepada masyarakat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.