Di Kalsel Harga yang Dibayar Petani Turun Lebih Besar 

Kepala Badan Pusat Statistik  (BPS) Prov Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Produsen Gabah Bulan September 2019

Banjarmasin, mediaprospek.com– Pada September 2019 NTP Kalimantan Selatan tercatat 95,00 atau naik 0,06 persen dibanding NTP Agustus 2019 yang mencapai 94,94.  Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,32 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun lebih besar  0,38 persen. Pada September 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami Inflasi negatif (deflasi) sebesar -0,53 persen, dimana  indeks harga kelompok bahan makanan terjadi penurunan terbesar 1,45 persen. Sementara kelompok lainnya naik berkisar 0,06 – 0,75 persen. Kepala Badan Pusat Statistik  (BPS) Prov Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, Kepala BPS Kota Banjarmasin, Agnes Widiastuti, dan jajaran,  mengatakan hal itu pada saat jumpa pers kepada wartawan media cetak, Elektronik dan online, serta para undangan dari perwakilan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Pemprov Kalsel dan Bank Indonesia (BI) di Aula kantor BPS Banjarbaru, Selasa, (1/10) Siang.

Diah mengatakan bahwa nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan September 2019 sebesar 103,38 lebih kecil dari dengan NTUP bulan sebelumnya, atau turun 0,40 persen. Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 2,14 persen, dari Rp 5.291,62 per Kg di bulan Agustus 2019 menjadi Rp 5.405,10 per Kg di bulan September 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 2,24 persen dari Rp 5.391,22 per Kg di bulan Agustus 2019 menjadi Rp 5.511,85 per Kg di bulan September 2019.0000000 Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

“NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM),” kata Diah.

“Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada September 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,00 atau naik 0,06 persen jika dibandingkan NTP pada Agustus 2019 yang mencapai 94,94 persen,” jelas Diah.

“Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) hanya turun 0,32 persen,  sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,38 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga turun 0,53 persen dan indeks BPPBM naik 0,08 persen, ujar Diah.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada September 2019, terjadi kenaikan nilai NTP gabungan disebabkan subsektor tanaman pangan naik 0,59 persen, subsektor tanaman hortikultura naik 0,20 persen dan tanaman perkebunan rakyat naik mencapai 0,74 persen. Sedangkan pada subsektor peternakan turun 2,05 persen dan subsektor perikanan turun 0,06,” papar Diah.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani.  Pada September 2019, It gabungan terjadi penurunan sebesar 0,32 persen dibandingkan Agustus 2019, yaitu dari 124,78 menjadi 124,38.   Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik 0,21 persen, subsektor hortikultura turun 0,21 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 0,30 persen, subsektor peternakan turun 2,28 persen, dan subsektor perikanan turun 0,57 persen.

Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada September 2019, Ib gabungan mengalami penurunan 0,38 persen dibandingkan dengan Ib Agustus 2019, yaitu dari 131,43 menjadi 130,92.

Penurunan  Ib ini terjadi seluruh subsektor.  Subsektor tanaman pangan turun 0,37 persen, subsektor hortikultura turun 0,41 persen,  subsektor perkebunan rakyat turun 0,43 persen,  subsektor peternakan turun 0,24 persen, dan subsektor perikanan  turun 0,51 persen.

NTP Subsektor a. Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Pada September 2019 NTP-P sebesar 93,48.  Pada bulan ini NTP-P naik 0,59 persen. Hal ini karena It naik 0,21 persen , sementara Ib turun 0,37 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan September 2019 sebesar 123,58 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 132,20 sehingga NTP-P masih dibawah 100.

Naiknya It pada September 2019 ini karena indeks harga pada kelompok padi naik 0,21 persen dan palawija naik 2,06 persen. Naiknya kelompok padi karena musim panen padi lokal di Kabupaten Tanah Laut, Banjar dan Barito Kuala sudah mulai berkurang sehingga harga mulai meningkat dan harga padi unggul beranjak naik.

Kelompok palawija terutama disebabkan naiknya harga komoditi ubi jalar dan ubi kayu. Indeks yang dibayar petani (Ib) September 2019 turun lebih besar 0,37 persen,  terutama dikarenakan turunnya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,52 persen, sementara indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan 0,07 persen. b.                Subsektor              Hortikultura          (NTP-H) NTP-H bulan September 2019 mencapai 107,54 persen.

Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 0,20 persen. Hal ini disebabkan it turun 0,21 persen menjadi 140,95 pada bulan September 2019, sedangkan Ib turun lebih besar 0,41 persen menjadi 131,07.  Indeks It lebih besar dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  diatas 100. Naiknya It September 2019 terutama karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok buah-buahan 0,12 persen dan kelompok tanaman obat naik 1,38 persen. Kenaikan It kelompok buah-buahan karena naiknya harga mangga, pepaya, nenas dan beberapa komoditi lainnya.

Sedangkan kelompok tanaman obat terjadi kenaikan 1,38 persen yang disebabkan oleh naiknya harga jahe dan Kunyit. Penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,52 persen, walaupun indeks BPPBM naik 0,21 persen.   c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada September 2019, NTP-TPR mencapai 78,59 atau naik 0,74 persen. Hal ini terjadi karena It naik 0,30 persen menjadi 104,39 walau Ib turun 0,43 persen menjadi 132,83 pada September 2019.

Indeks yang diterima petani (it) September 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100. Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 104,08 pada Agustus 2019  menjadi  104,39 pada September 2019, terutama karena naiknya harga karet, kelapa sawit, dan beberapa komoditas lainnya.  Sedangkan penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,54 persen, walaupun indeks BPPBM naik   0,05 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan September 2019, NTP-TR  mencapai 107,31 atau turun 2,05 persen. Hal ini terjadi karena  It turun  2,28 persen, sementara Ib hanya turun sebesar 0,24 persen. Penurunan It bulan September 2019 karena turunnya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar  2,28 persen, kelompok ternak kecil 2,88 persen, kelompok unggas turun 2,43 persen dan hasil ternak turun 2,02 persen. Penurunan  terjadi pada Ib yang disebabkan oleh turunnya indeks  konsumsi rumah tangga  0,46 persen walaupun indeks BPPBM naik 0,07 persen.  Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100. e. Subsektor Perikanan (NTNP) Pada September 2019, NTNP mencapai 110,46  atau turun 0,06 persen.

Hal ini karena It turun 0,57 persen, dan Ib turun 0,51 persen. Penurunan It pada bulan September 2019 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap  secara rata-rata turun 0,38 persen dan kelompok budidaya turun 1,11 persen. Penurunan Ib disebabkan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,73 persen, dan indeks  kelompok BPPBM turun 0,02 persen.

Indeks It subsektor perikanan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN-P di atas 100. 1)  Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada September 2019, NTN mencapai 113,19 atau naik 0,15 persen. Kenaikan NTN karena indeks yang diterima (It) hanya turun 0,38 persen lebih kecil dibanding dengan penurunan Ib mencapai 0,53 persen. Penurunan It karena kelompok penangkapan perairan umum turun 1,02 persen, dan kelompok penangkapan laut turun 0,14 persen.  Sementara penurunan pada Ib dikarenakan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,75 persen, dan kelompok BPPBM turun 0,02 persen.

Indeks It kelompok penangkapan ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN di atas 100. 2)  Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada September 2019, NTPi mencapai 103,28 atau turun 0,64 persen. Indeks yang diterima petani (It) turun 1,11 persen dan penurunan tersebut terjadi karena  It kelompok budidaya air tawar turun 0,98 persen, dan kelompok budidaya air payau turun 1,47 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,47 persen. Penurunan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT turun 0,68 persen, dan kelompok BPPBM turun 0,02 persen. Indeks It kelompok budidaya ikan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTPi diatas 100.

Perbandingan Antar Provinsi Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada September 2019 adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 115,04 dan terendah Provinsi Bangka Belitung dengan NTP sebesar 83,00. Provinsi Kalimantan Selatan September 2019 berada diurutan ke 25, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 103,88.

Pada bulan ini terdapat 23 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 10 provinsi mengalami penurunan NTP.  Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Jambi yang naik 2,27 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Maluku yang turun 1,56 persen. Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan September 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 96,92 persen dikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 95,18 persen, Kalimantan Selatan sebesar 95,00 dan Kalimantan Barat 93,41 persen.

Dilihat besarnya kenaikan NTP, Provinsi Kalimantan Timur mengalami kenaikan tertinggi 0,69 persen, Provinsi Kalimantan Barat naik 0,53 persen, Provinsi Kalimantan Tengah naik 0,35 persen dan Provinsi Kalimantan Selatan naik 0,06 persen Inflasi                Pedesaan Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan.

Pada September 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi inflasi negatif (deflasi) sebesar -0,35 persen. Inflasi negatif (deflasi) dipicu oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 1,45 persen, sedangkan kelompok lainnya terjadi kenaikan berkisar antara 0,07 – 0,75 persen, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,75 persen.

NTUP pada September 2019 mencapai 103,38 turun sebesar 0,40 dibanding dengan bulan sebelumnya yang mencapai 103,79. Pada bulan ini It turun 0,32 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM naik  0,08 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 124,38 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) yang mencapai  120,31 sehingga NTUP masih diatas 100.

NTUP mencermin kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya nilai produksi dengan biaya produksi. NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan. Bila dilihat dari subsektornya, diketahui 2 subsektor mengalami kenaikan NTUP, 3 subsektor mengalami penurunan.

NTUP tertinggi terjadi pada subsektor perikanan secara gabungan dengan nilai NTUP sebesar 125,38. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura mencapai 0,26 persen. Sedangkan subsektor lainnya naik/turun berkisar antara -0,35 – 0,26 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah selama September 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 79 observasi.

Dibulan September 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.500,00 per kilogram dengan varitas Ciherang terjadi di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin, dan Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara, serta varitas sartani di Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Harga tertinggi mencapai Rp 6.800,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala dengan varitas Siam Mayang. Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik  2,14 persen, dari Rp 5.291,62 per Kg di bulan Agustus 2019 menjadi Rp 5.405,10 per Kg di bulan September 2019 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi lebih banyak  varitas lokal seperti karang dukuh, siam mayang, dan beberapa jenis siam lainnya.

Walaupun panen padi lokal di Kabupaten Tanah Laut, Banjar dan Barito Kuala sudah hampir  selesai, sehingga harga gabah mulai terjadi kenaikan, begitu juga dengan varitas unggul dikabupaten lainnya yang sudah berakhir musim panen cenderung terjadi kenaikan harga. Hal ini menyebabkan secara harga rata-rata gabah kualitas GKP di bulan September 2019 terjadi kenaikan.

Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 2,24 persen dari Rp 5.391,22 per Kg di bulan Agustus 2019 menjadi Rp 5.511,85 per Kg di bulan September 2019 Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan September 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan relatif kecil persentase kadar air, untuk kadar hampa/kotoran terjadi kenaikan dari bulan sebelumnya. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan September 2019  masing-masing sebesar 14,24 persen dan 3,77 persen. (Ais/Mzr/tabloid prospek banjarmasin).

 283 total views,  1 views today

Check Also

Aparat Hukum Dihimbau Berantas Narkoba agar Bisa Lebih Ditingkatkan Lagi

Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. Suripno Sumas Banjarmasin, mediaprospek.com—Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.