Nilai Tukar Petani di Bulan Juli Turun 0,41 Persen

Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP, Kepala Bidang Statistik Produksi Ir. Rismanto, MP, Kepala Bidang Sosial Agnes Widia Astuti, SSi. ME, di hadapan para undangan perwakilan Struktur Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) dan para wartawan pada saat acara jumpa Pers bulanan di Aula kantor BPS Banjarbaru, mengatakan bahwa pada Juli 2019 Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 95,07 atau turun 0,41 persen dibanding NTP Juni 2019 yang mencapai 95,47.  Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,77 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya turun sebesar 0,35 persen. Kamis (1/8/2019), Siang.

Menurut data BPS bahwa pada Juli 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami deflasi  sebesar 0,52 persen, dimana  indeks harga kelompok bahan makanan terjadi penurunan 1,39 persen. Sementara kelompok lain naik berkisar 0,05 – 0,41 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Juli 2019 sebesar 104,33 lebih kecil dari dengan NTUP bulan sebelumnya, atau turun 0,96 persen.

Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 2,06 persen, dari Rp 5.172,27 per Kg di bulan Juni 2019 menjadi Rp 5.278,64 per Kg di bulan Juli 2019.  Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 2,01 persen dari Rp 5.260,54 per Kg di bulan Juni 2019 menjadi Rp 5.366,46 per Kg di bulan Juli 2019.

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM).

Diah mengatakan bahwa dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada Juli 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,07 atau turun 0,41 persen jika dibandingkan NTP pada Juni 2019 yang mencapai 95,47 persen. Penurunan  NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,77 persen,  sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun lebih kecil 0,35 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga turun 0,52 persen dan indeks BPPBM naik 0,20 persen.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Juli 2019, terjadi penurunan nilai NTP pada subsektor tanaman pangan, subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor perikanan. Kenaikan NTP terjadi pada subsektor Hortikultura dan subsektor peternakan. Penurunan/ kenaikan NTP berkisar antara 0,40 – 1,47 persen. 1.2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani,” kata Diah.

Selanjutnya Fachri Ubadiyah, SE. MP selaku Kepala Bidang Statistik Distribusi mengatakan bahwa, pada Juli 2019, It gabungan terjadi penurunan sebesar 0,77 persen dibandingkan Juni 2019, yaitu dari 126,20 menjadi 125,24.   Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan  turun  0,90 persen, subsektor hortikultura naik 0,22 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,89 persen, subsektor peternakan naik 0,19 persen, dan subsektor perikanan turun 0,86 persen.

“Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Juli 2019, Ib gabungan mengalami penurunan 0,35 persen dibandingkan dengan Ib  Juni 2019, yaitu dari 132,19 menjadi 131,73.  Penurunan  Ib ini terjadi seluruh subsektor.  Subsektor tanaman pangan turun 0,33 persen,  subsektor hortikultura turun 0,45 persen,  subsektor perkebunan rakyat turun 0,42 persen,  subsektor peternakan turun 0,21 persen, dan subsektor perikanan  turun 0,36 persen,” kata Fachri.

“Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Pada Juli 2019 NTP-P sebesar 92,85.  Pada bulan ini NTP-P turun 0,57 persen. Hal ini karena It turun 0,90 persen ,  walaupun Ib turun namun lebih kecil 0,33 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Juli 2019 sebesar 123,48 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 132,98 sehingga NTP-P masih dibawah 100. Turunnya It pada Juli 2019 ini karena indeks harga pada kelompok padi turun 1,15 persen. Penurunan kelompok padi karena sudah mulai panen varitas padi lokal (unus, karang dukuh, siam) dan turunnya permintaan gabah varitas lokal usang, walaupun dibeberapa wilayah banua enam sudah masa panen dengan varitas unggul (ciherang, inpari dan mekongga) mulai berakhir,” ujar Fachri.

“Kelompok palawija terjadi kenaikan 1,42 persen, terutama disebabkan naiknya harga komoditi jagung, kacang tanah dan ubikayu. Indeks yang dibayar petani (Ib) Juli 2019 turun lebih kecil 0,33 persen,  terutama dikarenakan turunnya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,51 persen, dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan 0,21 persen,” ungkap Fachri.

“Subsektor              Hortikultura          (NTP-H) NTP-H bulan Juli 2019 mencapai 104,90 persen.  Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 0,67 persen. Hal ini disebabkan it naik 0,22 persen menjadi 138,36 pada bulan Juli 2019, sedangkan Ib turun 0,45 persen menjadi 131,90.  Indeks It lebih besar dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  diatas 100. Naiknya It Juli 2019 terutama karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok sayur-sayuran 1,75 dan kelompok tanaman obat naik 0,82 persen, sementara kelompok buah-buahan turun 0,35 persen. Kenaikan It kelompok sayur-sayuran karena naiknya harga cabe rawit, cabe merah, bawang daun dan beberapa komoditi lainnya,” beber Fachri.

“Sedangkan kelompok tanaman obat juga terjadi kenaikan sebesar 0,82 persen yang disebabkan oleh naiknya harga kunyit dan Kencur. Penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,58 persen, walaupun indeks BPPBM naik 0,35 persen.   c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada Juli 2019, NTP-TPR mencapai 80,65 atau turun 1,47 persen. Hal ini terjadi karena It turun 1,89 persen menjadi 107,91 walau Ib turun 0,42 persen menjadi 133,80 pada Juli 2019,” jelas fachri.

Indeks yang diterima petani (it) bulan Juli 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100. Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 109,98 pada Juni 2019  menjadi  107,91 pada Juli 2019, terutama karena turunnya harga karet dan beberapa komoditas lainnya.  Sedangkan penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,55 persen, walaupun indeks BPPBM naik   0,20 persen. Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan Juli 2019, NTP-TR  mencapai 108,89 atau naik 0,40 persen. Hal ini terjadi karena  It naik  0,19 persen, sementara Ib turun sebesar 0,21 persen.

Kenaikan It Juli 2019 karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar sebesar 2,98 persen dan kelompok ternak kecil 2,21 persen. Penurunan  terjadi pada Ib yang disebabkan oleh turunnya indeks  konsumsi rumah tangga  0,47 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,13 persen.  Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100.

Subsektor Perikanan (NTNP) Pada Juli 2019, NTNP mencapai 109,66  atau turun 0,51 persen.  Hal ini karena It turun 0,86 persen, dan Ib turun lebih kecil 0,36 persen. penurunan It pada bulan Juli 2019 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap  secara rata-rata turun 0,95 persen dan kelompok budidaya turun 0,63 persen. Penurunan Ib disebabkan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,53 persen, walaupun indeks  kelompok BPPBM naik 0,02 persen.

Indeks It subsektor perikanan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN-P di atas 100. 1)  Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada Juli 2019, NTN mencapai 111,90 atau turun 0,59 persen. Penurunan NTN karena indeks yang diterima (It) turun 0,95 persen lebih besar dari penurunan Ib sebesar 0,36 persen. Penurunan It karena kelompok penangkapan perairan umum turun 1,25 persen, dan kelompok penangkapan laut turun 0,84 persen.

Sementara penurunan pada Ib dikarenakan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,54 persen, walaupun kelompok BPPBM naik sebesar 0,05 persen. 2)  Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada Juli 2019, NTPi mencapai 103,78 atau turun 0,27 persen. Indeks yang diterima petani (It) turun 0,63 persen dan penurunan tersebut terjadi karena  It kelompok budidaya air tawar turun 0,35 persen,  dan kelompok budidaya air payau turun 1,37 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,36 persen. Penurunan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT turun 0,51 persen, dan kelompok BPPBM turun 0,04 persen .

Perbandingan Antar Provinsi Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Juli 2019 adalah Provinsi Sulawesi Barat sebesar 113,25 dan terendah Provinsi Bangka Belitung sebesar 82,98 dan Provinsi Kalimantan Selatan berada diurutan ke 22, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 102,63.  Pada bulan ini terdapat 25 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 8 provinsi mengalami penurunan NTP.  Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Gorontalo yang naik 1,90 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Selatan yang turun 0,96 persen.

Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Juli 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 97,55 persen dikuti oleh Kalimantan  Selatan sebesar 95,07 persen, Kalimantan Timur sebesar 94,34 dan Kalimantan Barat sebesar 93,60 persen. Dilihat besarnya kenaikan, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan 0,97 persen dan Provinsi Kalimantan Timur naik 0,07 persen. sedangkan dua provinsi lainnya mengalami penurunan. Provinsi Kalimantan Selatan turun 0,41 persen dan Provinsi Kalimantan Barat 0,44 persen.

Inflasi    Pedesaan Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan.  Pada Juli 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi inflasi negatif (deflasi) sebesar 0,52 persen. Inflasi Negatif (Deflasi) dipicu oleh turunnya harga pada kelompok bahan makanan, sedangkan kelompok lainnya terjadi kenaikan, dengan kenaikan berkisar antara 0,04 sampai dengan 0,41 persen, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,41 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) NTUP pada Juli 2019 mencapai 104,33 turun sebesar 0,96 dibanding dengan bulan sebelumnya yang mencapai 105,34. Pada bulan ini It turun 0,77 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM mengalami kenaikan yang sama 0,20 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 125,24 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 120,04 sehingga NTUP masih diatas 100  NTUP mencermin kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya nilai produksi dengan biaya produksi.

NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan. Bila dilihat dari subsektornya, diketahui 4 subsektor mengalami penurunan NTUP dan 1 subsektor mengalami kenaikan. NTUP tertinggi terjadi pada subsektor perikanan secara gabungan dengan nilai NTUP sebesar 126,08 atau perikanan tangkap dengan nilai NTUP sebesar 129,08. Penurunan tertinggi terjadi pada subsektor perkebunan rakyat mencapai 2,08 persen. Sedangkan subsektor lainnya naik/turun berkisar antara 0,06 – 1,11 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah selama Juli 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 59 observasi.

Dibulan Juli 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.000,00 per kilogram dengan varitas Ciherang terjadi di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin.  Harga tertinggi mencapai Rp 8.673,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Tatah Makmur  Kabupaten Banjar dengan varitas unus kuning. Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik  2,06 persen, dari Rp 5.172,27 per Kg di bulan Juni 2019 menjadi Rp 5.278,64 per Kg di bulan Juli 2019 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi lebih banyak  varitas unggul seperti ciherang, infari dan mekongga, Disamping varitas lokal antara lain siam, siam mayang, karang dukuh,  dan beberapa jenis siam lainnya . Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 2,01 persen dari Rp 5.260,54 per Kg di bulan Juni 2019 menjadi Rp 5.366,46 per Kg di bulan Juli 2019.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Juli 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan relatif kecil persentase kadar air, begitu juga kadar hampa/kotoran mengalami penurunan dibandingkan bulan Juni 2019. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan  Juli 2019  masing-masing sebesar 14,69 persen dan 3,75 persen. (Mzr/BPS Prov Kalsel/tabloid prospek)

 234 total views,  2 views today

Check Also

Perjuangan Komisi IV Membuahkan Hasil

Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, HM Lutfi Saifuddin (Foto/Ist) Banjarmasin– Perjuangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.