Para Peserta Pelatihan Diharapkan Bisa Manfaatkan Ilmu yang didapat, Dana Desa dan Penyertaan Modal BUMDes untuk Pengembangan Usaha

Banjarmasin, mediaprospek.com–Sekretaris Balilatfo Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Jajang Abdullah, SPd. M.Si, didampingi Jajaran Balatmas yang mewakili Kepala Balatmas Banjarmasin Pepen Ependi, SE. MM dan Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM), usai menutup Pelatihan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa), angkatan VII dan IX, di Balai latihan Masyarakat (Balatmas) Banjarmasin, mengharapkan kepada para peserta yang mengikuti pelatihan selama enam hari (17-22 Juni) bisa memanfaatkan ilmu-ilmu yang didapatkan, terutama sebagai BUMDes supaya bisa memanfaatkan dana desa. Karena dalam Perdes diberikan ruang bahwa dana desa dapat penyertaan modal kepada BUMDes yang maksudnya untuk pengembangan usaha. Sabtu, (22/6) siang.

“Jadi kalau BUMDes nya sudah cukup maju, terbatas dananya, melalui Musyawarah Desa (Musdes) diusulkan ke Kepala Desa untuk supaya dapat pemanfaatan dari dana desa itu paling besar 30 persen dari dana desa yang diperuntukan untuk desa tersebut, supaya BUMDes-BUMDes itu segera maju, “kata Jajang.

“Yang kedua, BUMDes itu jangan hanya berkutat di desa saja, tetapi ada juga peluang membentuk BUMDESMA (BUMDes Bersama). Artinya bagi BUMDes-BUMDes yang mempunyai karakteristik, yang mempunyai kegiatan usaha yang sama dan dalam satu kawasan, itu bisa membentuk BUMDESMA, artinya desa-desa yang ada di BUMDes itu bersinergi beberapa desa, dirumuskan sehingga usahanya bisa lebih luas lagi, “ujarnya.

Kalau ada kendala di dalam BUMDes, menurut Jajang itu adalah wajar karena baru. Tetapi dirinya punya keyakinan BUMDes ini bisa menjadi wadah perekonomian di desa, karena dana desa sekarang langsung meningkat terus dari Presiden Jokowi. Tahun ini hampir 78 Triliun dengan peningkatan dan dana kelurahan, sehingga begitu dana desa itu meningkat terus, belum lagi dana-dana dari Kementrian yang lain.

“Dari Kementrian lain itu kan ada 19 Kementerian yang bersinergi dengan Kementerian Desa untuk membangun di desa. Artinya dana yang berputar di desa itu memerlukan wadah ekonomi perekonomian yang memang milik di desa. Sehingga Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden nomor 1 tahun 2018 terkait dengan pemanfaatan dana desa yang tidak boleh di pihak ketigakan, “ jelasnya.

“Nah disitulah berarti daya beli masyarakat di desa itu cukup meningkat karena tersedianya pengelolaan dana desa dikerjakan sendiri berarti dia punya uang, dan daya beli meningkat, “pungkasnya.

“Mudah-mudahan dengan adanya Intruksi Presiden itu, Kepala Desa betul-betul mentaati dana desa yang tidak di pihak ketigakan, “katanya.

Evaluasi terhadap BUMDes tentunya yang sudah maju banyak sekali, BUMDes-BUMDes yang punya inovasi tinggi, karena disitu sinergitas antara Kepala Desa dengan pengurus BUMDes nya sangat bagus, sangat baik terjalin, bahkan ada salah satu BUMDes yang sekarang punya program satu rumah satu Sarjana yang didanai dari BUMDes seperti di Desa Ponggo Jawa Tengah.

“Nah, BUMDes-BUMDes lain bisa mengikuti, lihat potensi di desanya, kalau dia punya potensi dan inovasi, tinggal Sumber Daya Manusia (SDM) nya saja. Itulah tugas Balilatfo beserta jajaran balai-balai untuk meningkatkan kualitas SDM dan tahun ini Presiden menetapkan adalah tahun Kualitas SDM, “katanya.

Amita Paramal Dini, SGZ dari Balatmas Banjarmasin selaku (PSM) Penggerak Swadaya Masyarakat, mengatakan bahwa, semua peserta yang mengikuti pelatihan, semuanya sudah mempunyai BUMDes, kecuali ada satu yang baru lima bulan berdiri dan baru ada satu unit usaha, mereka ini belum bisa mempertanggungjawabkan karena belum satu tahun berdiri BUMDes nya.  “Jadi, untuk materi akutansi masih meraba-raba, namun untuk unit usahanya sangat bagus sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat desanya, “katanya.

Menurut Amita, Kendalanya dari yang baru merintis BUMDes itu adalah mereka bingung memilih unit usaha yang cocok untuk desanya yang kira-kira tidak menimbulkan kerugian dan masalah lainnya yaitu terkait modal dan jaringan kerjasamanya.  Dimana BUMDes itu punya modal dari dana desa dan penyertaan modal dari Kementerian Desa.

Sunarno salah seorang peserta dari Desa Lok Batu, Tanjung, Tabalong mengatakan bahwa kegiatan yang ia ikuti di pelatihan Balatmas Banjarmasin ini sangat positif sekali, karena dari materi-materi yang disampaikan dan diajarkan pelatih dan nara sumber dirinya menjadi tahu dan mengerti cara membuat laporan akutansi. Karena di sini dibikin akutansi praktis karena ada aplikasinya, sekali membuat laporan semua sudah masuk laporannya. “Sebelumnya membuat laporan itu biasanya satu-satu, tetapi kalau sekarang lebih enak tinggal masukkan di aplikasi saja, “kata Sunarno.

Diakui Sunarno bahwa sebelum mengikuti pelatihan di BalatmasBanjarmasin ini banyak kendala yang ia hadap idi BUMDes seperti kurangnya dukungan masyarakat, juga kegagalan sewaktu merintis suatu usaha-usaha di BUMDes seperti usaha BUMDes Mart, simpan pinjam, “Karena sewaktu membangun usaha itu kami belum diajarkan tekhnik mengambil suatu keputusan misalnya apakah ini menguntungkan dan apakah mampu melaksanakannya. Juga di Balatmas ini kami diajarkan cara pendekatan kepada masyarakat dan lain sebagainya. Dirinya sangat berterimakasih dengan adanya kegiatan seperti ini, “katanya.

Sementara itu, Widodo salah seorang peserta dari Desa Tegal Sari Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel, yang juga Ketua BUMDes Tegal Sari mengatakan bahwa selama enam hari pelatihan di Balatmas Banjarmasin dirinya sangat berterimakasih sekali atas didikan dan pembelajaran yang diberikan nara sumber, pelatih, panitia dan pendamping, yang membimbing dirinya dan peserta lainnya dalam membangun desa agar bisa lebih maju lagi.

Dijelaskannya, BUMDes di desanya sudah berkembang dan berjalan sudah dua tahun, ke depannya akan membangun unit usaha baru yaitu bengkel dan rencananya peternakan juga. “Mudah-mudahan dengan pelatihan ini dapat memacu desa kami agar bisa lebih maju dan lebih baik lagi ke depannya, “harap Widodo.

Widodo juga menambahkan bahwa materi yang diberikan dalam pelatihan ini dalam hal akutansi sangat bagus sekali. Soalnya selama ini dalam administrasi keuangan itu sudah jalan, tetapi dalam pelatihan ini diberikan pelajaran yang lebih baik lagi dan praktis, untuk mengetahui rugi labanya itu lebih kelihatan, katanya.

“Kendala yang ada untuk mengembangkan BUMDes di desa kami, adalah karena desa kami desa kecil, untuk unit usaha banyak yang belum terpegang karena jauh dari jangkauan, seperti perusahaan tambang itu apa-apanya belum ke tempat kami, “tutur Widodo.

Dari masyarakat sangat senang dengan adanya BUMDes dan antusias mendukung BUMDes Tegal Sari Sejahtera ini, begitu juga dengan Kepala Desa dan BPD serta jajaran di desa.Dijelaskan Widodo bahwa BUMDes Tegal Sari ini banyak memiliki unit usaha seperti penjualan Saprodi dan pupuk, obat-obatan seperti Herbisida dan masyarakat sangat mudah untuk mengakses belanja-belanja untuk keperluan pertanian, persawahan dan perkebunan. Unit usaha pangkalan LPG yang mana sudah mencukupi desa dan juga unit usaha pengelolaan air bersih dan 100 persen sudah ke masyarakat.

“Dengan adanya pelatihan ini kami lebih semangat, lebih maju untuk mengembangkan usaha-usaha kami di desa Tegal Sari, “ujar Widodo mengakhiri pembicaraan. (Ais/Mzr/tabloidprospek)

 

 341 total views,  5 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.