Juni, Nilai Tukar Petani di Kalsel Turun 0,43 Persen

 

Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc

Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel, Ir. Diah Utami, M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP, pada saat jumpa Pers, kepada para wartawan media cetak dan Eletronik, serta para undangan di Aula kantor BPS Banjarbaru, mengatakan bahwa, pada bulan Juni lalu, nilai tukar petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 95,47 atau turun 0,43 persen dibanding NTP Mei 2019 yang mencapai 95,88.  Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) hanya naik 0,12 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik sebesar 0,56 persen. Senin, (1/7) siang.

Diah mengatakan bahwa, pada bulan Juni lalu di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami inflasi  sebesar 0,70 persen, dimana  seluruh indeks harga kelompok terjadi kenaikan berkisar  0,05 – 1,34 persen.  Tertinggi kelompok bahan makanan naik 1,34 persen.  Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Juni 2019 sebesar 105,34 sama dengan NTUP bulan sebelumnya. Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 3,36 persen, dari Rp 5.004,32 per Kg di bulan Mei 2019 menjadi Rp 5.172,27 per Kg di bulan Juni 2019.  Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,34 persen dari Rp 5.090,61 per Kg di bulan Mei 2019 menjadi Rp 5.260,54 per Kg di bulan Juni 2019.

Diah menjelaskan bahwa nilai tukar petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

“Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM),”, katanya.

“Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Pada Juni 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,47 atau turun 0,34 persen jika dibandingkan NTP pada Mei 2019 yang mencapai 95,88 persen. Penurunan  NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) hanya naik 0,12 persen,  sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik 0,56 persen.   Dimana indeks konsumsi rumah tangga terjadi kenaikan sebesar 0,70 persen   dan indeks BPPBM naik 0,12 persen,”, ujarnya.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Juni 2019,   terjadi penurunan nilai NTP pada hampir seluruh subsektor. Kenaikan NTP berkisar antara 0,33 – 1,57 persen, dan hanya subsektor tanaman pangan terjadi kenaikan sebesar 0,14 persen.. 1.2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani,”, katanya.

Pada Juni 2019, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 0,12 persen dibandingkan Mei 2019, yaitu dari 126,05 menjadi 126,20.   Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan  naik  0,62 persen, subsektor hortikultura turun 1,00 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 0,28 persen, subsektor peternakan turun 0,32 persen, dan subsektor perikanan naik 0,26 persen.

Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Juni 2019, Ib gabungan mengalami kenaikan sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan Ib  Mei 2019, yaitu dari 131,46 menjadi 132,19.

Kenaikan  Ib ini terjadi seluruh subsektor.  Subsektor tanaman pangan naik 0,48 persen,  subsektor hortikultura naik 0,58 persen,  subsektor perkebunan rakyat naik 0,61 persen,  subsektor peternakan naik 0,48 persen, dan subsektor perikanan  naik  sebesar 0,90 persen.  1.4. NTP Subsektor a. Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) Pada Juni 2019 NTP-P sebesar 93,39.  Pada bulan ini NTP-P naik 0,14 persen. Hal ini karena It naik 0,62 persen , sementara itu Ib hanya naik  0,48 persen.   Indeks yang diterima petani (it) bulan Juni 2019 sebesar 124,61 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 133,42 sehingga NTP-P masih dibawah 100. Naiknya It pada Juni 2019 ini karena indeks harga pada kelompok padi mengalami kenaikan 0,73 persen.

Kenaikan kelompok padi karena banyaknya permintaan varitas padi lokal (unus, karang dukuh, siam) dan belum masa panen, walaupun dibeberapa wilayah banua enam sudah masa panen dengan varitas unggul (ciherang, inpari dan mekongga).  kelompok palawija terjadi peurunan 0,38 persen, terutama disebabkan turunnya harga komoditi kacang tanah dan ubikayu. Indeks yang dibayar petani (Ib) Juni 2019 naik sebesar 0,48 persen,  terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga 0,62 persen, dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan 0,05 persen.

Subsektor             Hortikultura          (NTP-H) NTP-H bulan Juni 2019 mencapai 104,20 persen.  Pada bulan ini NTP-H turun sebesar 1,57 persen. Hal ini disebabkan it turun 1,00 persen menjadi 138,06 pada bulan Juni 2019, dan  Ib  naik sebesar 0,58 persen menjadi 132,50.  Indeks It lebih besar dari indeks Ib  Sehingga NTP-H  diatas 100. Turunnya It bulan Juni 2019 terutama karena terjadi penurunan indeks harga komoditas pada kelompok buah-buahan 1,74 dan kelompok tanaman obat turun 0,87 persen, sementara kelompok sayur-sayuran naik 1,14 persen.

Penurunan It kelompok buah-buahan karena turunnya harga jeruk dan semangka. Sedangkan kelompok tanaman obat juga terjadi penurunan sebesar 0,87 persen yang disebabkan oleh turunnya harga jahe, kunyit dan Kencur. Kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,65 persen, dan indeks BPPBM naik 0,16 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR) Pada Juni 2019, NTP-TPR mencapai 81,86 atau turun sebesar 0,33 persen.  Hal ini terjadi karena It hanya naik 0,28 persen menjadi 109,98.  Sementara Ib naik lebih tinggi 0,61 persen menjadi 134,36 pada Juni 2019.  Indeks yang diterima petani (it) bulan Juni 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100. Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 109,68 pada Mei 2019  menjadi  109,98 pada Juni 2019, terutama karena naiknya harga karet dan beberapa komoditas lainnya.  Sedangkan kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,71 persen, dan  indeks BPPBM naik   0,13 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR) Pada bulan Juni 2019, NTP-TR  mencapai 108,45 atau turun 0,80 persen. Hal ini terjadi karena  It turun  0,32 persen, sementara Ib naik sebesar 0,48 persen. Penurunan It Juni 2019 karena turunnya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar sebesar 0,48 persen dan kelompok hasil ternak 1,43 persen. Kenaikan  terjadi pada Ib yang disebabkan oleh naiknya indeks  konsumsi rumah tangga  0,66 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,24 persen.

Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100. e. Subsektor Perikanan (NTNP) Pada Juni 2019, NTNP mencapai 110,22  atau turun 0,63 persen.  Hal ini karena It naik sebesar 0,26 persen, sementara Ib naik lebih besar 0,90 persen. kenaikan It pada bulan Juni 2019 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap  secara rata-rata naik 0,30 persen dan kelompok budidaya naik 0,15 persen.  Kenaikan Ib  disebabkan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 1,22 persen, dan indeks  kelompok BPPBM naik 0,19 persen.

Indeks It subsektor perikanan lebih besar dari indeks Ib sehingga NTN-P di atas 100. 1)  Kelompok Penangkapan Ikan (NTN) Pada Juni 2019, NTN mencapai 112,56 atau turun 0,59 persen. Penurunan NTN karena indeks yang diterima (It) hanya naik  0,30 persen lebih kecil dari kenaikan Ib yang hanya mencapai 0,90 persen. Kenaikan It karena hasil penangkapan perairan umum naik 0,82 persen, dan kelompok penangkapan laut naik 0,11 persen.

Sementara kenaikan pada Ib dikarenakan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 1,22 persen dan kelompok BPPBM naik sebesar 0,19 persen. 2)  Kelompok Budidaya Ikan (NTPi) Pada Juni 2019, NTPi mencapai 104,06 atau turun 0,74 persen. Indeks yang diterima petani (It) naik 0,15 persen dan kenaikan tersebut terjadi karena  It kelompok budidaya air payau naik 1,50 persen,  dan kelompok budidaya air tawar mengalami penurunan 0,34 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,90 persen. Kenaikan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT naik 1,22 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,21 persen .

Perbandingan Antar Provinsi Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Juni 2019 adalah Provinsi Sulawesi Barat sebesar 113,01 dan terendah Provinsi Bangka Belitung sebesar 83,57 dan Provinsi Kalimantan Selatan berada diurutan ke 21, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 102,33.  Pada bulan ini terdapat 13 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 20 provinsi mengalami penurunan NTP.

Dilihat dari besar kenaikan NTP,  tertinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang naik 1,43 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau  yang turun 3,12 persen. Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Juni 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 96,62 persen dikuti oleh Kalimantan  Selatan sebesar 95,47 persen, Kalimantan Timur sebesar 94,27 dan Kalimantan Barat sebesar 94,02 persen.

Dilihat besarnya kenaikan, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan 0,06 persen, sedangkan tiga provinsi lainnya mengalami penurunan. Provinsi Kalimantan Barat turun 0,26 persen, dan Provinsi Kalimantan timur 0,32 persen dan Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan sebesar 0,43 persen atau dapat Inflasi   Pedesaan Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan.

Pada Juni 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi inflasi sebesar 0,70 persen. Seluruh Kelompok mengalami kenaikan,   dengan kenaikan berkisar antara 0,05 sampai dengan 1,34 persen, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,34 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) NTUP pada Juni 2019 mencapai 105,34 sama dengan keadaan bulan yang lalu (tidak terjadi perubahan). Pada bulan ini It naik 0,12 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM mengalami kenaikan yang sama 0,12 persen secara gabungan.   Indeks yang diterima petani (It) sebesar 126,20 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 119,80 sehingga NTUP masih diatas 100.

NTUP mencermin kemampuan produksi petani, dengan NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan. Bila dilihat dari subsektornya, diketahui 3 subsektor mengalami kenaikan NTUP dan 2 subsektor mengalami penurunan. NTUP tertinggi terjadi pada subsektor perikanan secara gabungan dengan nilai NTUP sebesar 127, 21 atau perikanan tangkap dengan nilai NTUP sebesar 130,38. Subsektor tanaman pangan  mengalami kenaikan tertinggi sebesar 0,57 persen. Sedangkan subsektor lainnya naik/turun berkisar antara 0,05 – 1,16 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah Survei harga produsen gabah selama Juni 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan.  Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 56 observasi.

Dibulan Juni 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP 4.000,00 per kilogram dengan varitas Ciherang terjadi di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin dan Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan, serta varitas IR.66 yang terjadi di Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.  Harga tertinggi mencapai Rp 8.800,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Mekar Sari  Kabupaten Barito Kuala dengan varitas Siam Mayang.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik  3,36 persen, dari Rp 5.004,32 per Kg di bulan Mei 2019 menjadi Rp 5.172,27 per Kg di bulan Juni 2019 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi lebih banyak  varitas unggul seperti ciherang, infari dan mekongga, sedangkan varitas lokal antara lain siam, siam mayang, karang dukuh,  dan beberapa jenis siam lainnya .

Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,34 persen dari Rp 5.090,61 per Kg di bulan Mei 2019 menjadi Rp 5.260,54 per Kg di bulan Juni 2019 Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Juni 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi kenaikan relatif kecil persentase kadar air, begitu juga kadar hampa/kotoran mengalami kenaikan dibandingkan bulan Mei 2019. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan  Juni 2019  masingmasing sebesar 14,92 persen dan 4,49 persen. (Mzr/tabloidprospek/BPS Prov Kalsel)

 

 

 327 total views,  3 views today

Check Also

Aparat Hukum Dihimbau Berantas Narkoba agar Bisa Lebih Ditingkatkan Lagi

Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. Suripno Sumas Banjarmasin, mediaprospek.com—Sekretaris Komisi I DPRD Kalsel H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.