Home / Ekonomi & Bisnis / Di Bulan Februari NTP Kalsel Naik 0,60 Persen

Di Bulan Februari NTP Kalsel Naik 0,60 Persen

Kepala BPS Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP (kiri) ketika menjelaskan seputar Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Produsen Gabah Bulan Februari 2019 (Foto MZR)

Banjarmasin, mediaprospek.com–Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP, Kepala Bidang Statistik Produksi Ir. Rismanto, MP, pada saat jumpa Pers Bulanan, kepada para media cetak dan Eletronik, serta para undangan dari Perwakilan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Pemprov Kalsel di Aula kantor BPS Banjarbaru, mengatakan bahwa, pada Februari 2019 NTP Kalimantan Selatan tercatat 95,79 atau naik 0,60 persen dibanding NTP Januari 2019 yang mencapai 95,22. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,48 persen sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,11 persen, Jumat, (1/3/2019).

Diah mengatakan bahwa pada Februari 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami deflasi sebesar 0,29 persen, dimana indeks harga kelompok terjadi kenaikan berkisar 0,01 – 0,56 persen, kecuali kelompok bahan makanan turun 1,08 persen. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Februari 2019 sebesar 103,88 atau naik sebesar 0,13 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya yang mencapai 103,75.

“Disisi lain, Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani turun 3,35 persen, dari Rp 5.550,75 per Kg di bulan Januari 2019 menjadi Rp 5.364,92 per Kg di bulan Februari 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan turun 3,21 persen dari Rp 5.642,60 per Kg di bulan Januari 2019 menjadi Rp 5.461,60 per Kg di bulan Februari 2019,”, ujar Diah.

“Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani,”, katanya.

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya,”, ujarnya.

Pada Februari 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,79 atau naik 0,60 persen jika dibandingkan NTP pada Januari 2019 yang mencapai 95,22 persen. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,48 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,11 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga terjadi penurunan sebesar 0,29 persen dan indeks BPPBM naik 0,36 persen.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Februari 2019, terjadi kenaikan nilai NTP pada subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, dan subsektor perkebunan rakyat, sedangkan subsektor peternakan dan subsektor perikanan yang terjadi penurunan nilai NTP,”, tandasnya.

Selanjutnya pada Indeks Harga yang diterima Petani (It), Diah mengatakan bahwa indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Februari 2019, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 0,48 persen dibandingkan Januari 2019, yaitu dari 123,00 menjadi 123,60. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,25 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 0,97 persen, dan subsektor perkebunan rakyat naik sebesar 2,25 persen. Sedangkan Indeks yang diterima petani pada subsektor peternakan dan subsektor perikanan turun masing-masing 0,92 persen dan 0,54 persen.

Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Februari 2019, Ib gabungan mengalami penurunan sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan Ib Januari 2019, yaitu dari 129,17 menjadi 129,03. Penurunan Ib ini terjadi hampir seluruh subsektor. Subsektor tanaman pangan turun sebesar 0,11 persen, subsektor hortikultura turun sebesar 0,23 persen, subsektor perkebunan rakyat turun sebesar 0,16 persen, dan subsektor perikanan turun sebesar 0,29 persen. Sedangkan subsektor peternakan naik 0,16 persen.

Pada Februari 2019 NTP-P sebesar 95,43. Pada bulan ini NTP-P naik sebesar 0,37 persen. Hal ini karena It naik 0,25 persen , sementara itu Ib terjadi penurunan sebesar 0,11 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Februari 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-P masih dibawah 100.

Naiknya It pada Februari 2019 ini karena indeks harga pada kelompok palawija terjadi kenaikan sebesar 2,78 persen sementara kelompok padi turun sebesar 0,01 persen. Kelompok palawija terjadi kenaikan terutama disebabkan naiknya harga pada komoditi jagung dan kacang tanah. Indeks yang dibayar petani (Ib) pada Februari 2019 turun sebesar 0,11 persen, terutama dikarenakan turunnya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,29 persen, walaupun indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen.

NTP-H bulan Februari 2019 mencapai 102,81 persen. Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 1,21 persen. Hal ini disebabkan it naik 0,97 persen menjadi 132,71 pada bulan Februari 2019, sementara Ib mengalami penurunan sebesar 0,23 persen menjadi 129,08 pada bulan Februari 2019 lebih kecil dari indeks It Sehingga NTP-H diatas 100.

Naiknya It bulan Februari 2019 terutama karena terjadi kenaikan indeks harga komoditas pada kelompok buah-buahan sebesar 2,16 persen. kenaikan terjadi pada jeruk, nanas, pisang, durian, dan beberapa buah lainnya. Sedangkan kelompok sayur-sayuran terjadi penurunan karena turunnya harga cabe merah, sawi, tomat dan beberapa sayur lainnya. Kelompok tanaman obat terjadi penurunan yang disebabkan oleh harga kunyit, jahe dan kencur.

Penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,29 persen, namun indeks BPPBM naik 0,08 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR)

Pada Februari 2019, NTP-TPR mencapai 79,25 atau naik sebesar 2,41 persen. Hal ini terjadi karena It naik 2,25 persen menjadi 103,69. Sementara Ib turun sebesar 0,16 persen menjadi 130,83 pada Februari 2019. Indeks yang diterima petani (it) bulan Februari 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100.

Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 101,41 pada Januari 2019 menjadi 103,69 pada Februari 2019, terutama karena naiknya harga kelapa sawit, karet, kemiri, dan beberapa komoditas lainnya. Sedangkan penurunan pada Ib disebabkan turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,25 persen, dan indeks BPPBM naik 0,25 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR)

Pada bulan Februari 2019, NTP-TR mencapai 109,91 atau turun sebesar 1,08 persen. Hal ini terjadi karena It turun 0,92 persen, sementara Ib naik sebesar 0,16 persen.

Penurunan It bulan Februari 2019 karena turunnya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar 0,21 persen, kelompok ternak kecil turun 0,25 persen, kelmpok unggas turun 1,91 persen dan kelompok hasil ternak turun sebesar 0,14 persen. Kenaikan terjadi pada Ib yang disebabkan oleh naiknya indeks BPPBM sebesar 0,67 persen, sementara indeks konsumsi rumah tangga turun 0,22 persen. Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100.

Pada Februari 2019, NTNP mencapai 111,69 atau turun sebesar 0,25 persen. Hal ini karena It turun lebih besar dari penurunan Ib. It turun sebesar 0,54 persen, sedangkan Ib turun hanya 0,29 persen. penurunan It pada bulan Februari 2019 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap secara rata-rata turun 0,84 persen, dan kelompok budidaya ikan naik sebesar 0,33 persen. Penurunan Ib disebabkan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,50 persen, walaupun indeks kelompok BPPBM naik 0,18 persen.

Pada Februari 2019, NTN mencapai 113,47 atau turun sebesar 0,54 persen. Penurunan NTN karena It turun lebih besar dari penurunan Ib, indeks yang diterima (It) turun 0,84 persen, sementara Ib hanya turun 0,30 persen. Penurunan It karena hasil penangkapan perairan umum turun 1,23 persen, dan kelompok penangkapan laut mengalami penurunan sebesar 0,70 persen. Sementara penurunan pada Ib dikarenakan turunnya indeks harga kelompok KRT sebesar 0,51 persen, walaupun kelompok BPPBM naik sebesar 0,15 persen.

Pada Februari 2019, NTPi mencapai 107,01 atau naik sebesar 0,58 persen. Indeks yang diterima petani (It) naik 0,33 persen dan kenaikan tersebut terjadi karena It kelompok budidaya air payau naik sebesar 1,87 persen, sementara kelompok budidaya tawar turun 0,22 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,25 persen. Penurunan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT turun 0,49 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,26 persen .

Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Februari 2019 adalah Provinsi Jawa Barat sebesar 111,42 dan terendah Provinsi Bangka Belitung sebesar 84,12 dan Provinsi Kalimantan Selatan berada diurutan ke 21, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 102,94. Pada bulan ini terdapat 14 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 19 provinsi mengalami penurunan NTP. Dilihat dari besar kenaikan NTP, tertinggi terjadi di Provinsi Riau yang naik sebesar 1,58 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi tengah yang turun sebesar 1,47 persen.

Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Februari 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 95,57 persen dikuti oleh Kalimantan Tengah sebesar 95,61 persen, Kalimantan Timur sebesar 94,47 dan Kalimantan Barat sebesar 93,28 persen. Tiga Provinsi mengalami kenaikan NTP yaitu, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan tertinggi naik 1,03 persen, Provinsi Kalimantan Selatan naik 0,60 persen, dan Provinsi Kalimantan Timur naik 0,31 persen. Sedangkan Provinsi Kalimantan Barat turun 0,67 persen.

Inflasi Pedesaan

Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan. Pada Februari 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi Deflasi sebesar 0,29 persen. Hampir seluruh Kelompok mengalami kenaikan, kecuali kelompok bahan makanan terjadi penurunan 1,08 persen. Kelompok yang mengalami kenaikan berkisar antara 0,01 sampai dengan 0,56 persen, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP)

NTUP pada Februari 2019 mencapai 103,88 atau naik sebesar 0,13 persen. Hal ini terjadi karena It naik 0, 48 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM naik 0,36 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 123,60 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 118,98 sehingga NTUP masih diatas 100. NTUP mencermin kemampuan produksi petani, dengan NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan.

Bila dilihat dari subsektornya, diketahui 2 subsektor mengalami kenaikan NTUP dan 3 subsektor lainnya mengalami penurunan NTUP. Subsektor hortikultura dan subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,89 persen dan 1,99 persen, subsektor lainnya turun berkisar antara 0,07 – 1,58 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah

Survei harga produsen gabah selama Februari 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan, Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 57 observasi.

Dibulan Februari 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP.4.500,00 per kilogram dengan varitas Infari 11 terjadi di Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Harga tertinggi mencapai Rp.6.571,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Tanah Laut dengan varitas Unus Jambun.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani turun 3,35 persen, dari Rp 5.550,75 per Kg di bulan Januari 2019 menjadi Rp 5.364,92 per Kg di bulan Februari 2019 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi sama banyak antara varitas lokal dan unggul. Varitas lokal antara lain siam kardil, siam kupang dan siam dan varitas unggul antara lain ciherang, mekongga, infari dan IR 42. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan turun 3,21 persen dari Rp.5.642,60 per Kg di bulan Januari 2019 menjadi Rp 5.461,60 per Kg di bulan Februari 2019.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Februari 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan persentase kadar air, namun kadar hampa/kotoran juga terjadi kenaikan dibandingkan bulan Januari 2019. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan Februari 2019 masing-masing sebesar 14,45 persen dan 4,07 persen. (Prospek)

 233 total views,  1 views today