Nilai Tukar Petani Kalsel Sebesar 95,22 Berada Diurutan ke 22 di Bawah Nasional

BANJARMASIN, PROSPEK-Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan Nilai Tukar Petani tertinggi pada Januari 2019 adalah Provinsi Jawa Barat sebesar 111,55 dan terendah Provinsi Bangka Belitung sebesar 83,55 dan Provinsi Kalimantan Selatan berada diurutan ke 22, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 103,33. Pada bulan ini terdapat 15 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 18 provinsi mengalami penurunan NTP. Dilihat dari besar kenaikan NTP, tertinggi terjadi di Provinsi Riau yang naik sebesar 2,59 persen dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Papua yang turun sebesar 1,58 persen. Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP, mengatakan hal itu kepada para wartawan media cetak dan Eletronik, di Aula kantor BPS Banjarbaru. Jumat, (1/2/2019).

Dari empat provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Januari 2019, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 95,22 persen dikuti oleh Kalimantan Tengah sebesar 94,64 persen, Kalimantan Timur sebesar 94,18 dan Kalimantan Barat sebesar 93,91 persen. Seluruh Provinsi di Kalimantan mengalami penurunan NTP , Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan terkecil yaitu 0,21 persen, Provinsi Kalimantan Timur turun sebesar 0,31 persen, Provinsi Kalimantan Tengah turun 0,39 persen dan Provinsi Kalimantan Barat turun 0,79 persen.

Fachri mengatakan bahwa pada Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan. Pada Januari 2019, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi Inflasi sebesar 1,02 persen. Seluruh Kelompok mengalami kenaikan, dan kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,77 persen. Kelompok lainnya naik berkisar antara 0,21 sampai dengan 0,67 persen

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP), pada Januari 2019 mencapai 103,75 atau naik sebesar 0,37 persen. Hal ini terjadi karena It naik 0,60 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM naik 0,23 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 123,00 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 118,56 sehingga NTUP masih diatas 100. NTUP mencermin kemampuan produksi petani, dengan NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan,” katanya.

“Bila dilihat dari subsektornya, diketahui tiga subsektor mengalami penurunan NTUP dan 2 subsektor lainnya mengalami kenaikan NTUP. Subsektor hortikultura mengalami penurunan tertinggi sebesar 0,98 persen, 2 subsektor lainnya turun sebesar 0,36 persen dan 0,76 persen. Subsektor tanaman pangan yang naik 1,61 persen dan subsektor peternakan naik 0,46 persen,” ujarnya.

Perkembangan Harga Produsen Gabah

Survei harga produsen gabah selama Januari 2019 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan, Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 67 observasi.

Dibulan Januari 2019 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP.4.423,00 per kilogram dengan varitas IR.42 terjadi di Kecamatan Tapin Utara Kabupaten Tapin. Harga tertinggi mencapai Rp.7.200,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar dengan varitas Mayang.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 7,64 persen, dari Rp 5.156,69 per Kg di bulan Desember 2018 menjadi Rp 5.550,75 per Kg di bulan Januari 2019, dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi lebih banyak varitas lokal (karang dukuh, siam kardil, siam kupang dan siam). Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 7,47 persen dari 5.250,21 per Kg di bulan Desember 2018 menjadi Rp 5.642,60 per Kg di bulan Januari 2019.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Januari 2019 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi penurunan persentase kadar air, namun kadar hampa/kotoran juga terjadi kenaikan dibandingkan bulan Desember 2018. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan Januari 2019 masing-masing sebesar 14,70 persen dan 3,96 persen. (MZR)

 298 total views,  2 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.