Januari, Nilai Tukar Petani Kalsel Turun 0,21 Persen

Kepala BPS Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP

BANJARMASIN, PROSPEK-Pada bulan Januari lalu, Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 95,22 atau turun 0,21 persen dibanding NTP Desember 2018 yang mencapai 95,43. Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,60 persen lebih kecil dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,82 persen.  Pada Januari 2019 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 1,02 persen, dimana indeks harga seluruh kelompok terjadi kenaikan berkisar 0,21 – 1,77 persen.  Sedangkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Januari 2019 sebesar 103,75 atau naik sebesar 0,37 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya yang mencapai 103,36. Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP, mengatakan hal itu kepada para wartawan media cetak dan Eletronik, di Aula kantor BPS Banjarbaru. Jumat, (1/2/2019).

Pada harga gabah, Fachri, mengatakan bahwa rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 7,64 persen, dari Rp 5.156,69 per Kg di bulan Desember 2018 menjadi Rp 5.550,75 per Kg di bulan Januari 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 7,47 persen dari Rp 5.250,21 per Kg di bulan Desember 2018 menjadi Rp 5.642,60 per Kg di bulan Januari 2019.

Menurutnya, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Selanjutnya, Ia mengatakan bahwa, NTUP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.

“Pada Januari 2019, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,22 atau turun 0,21 persen jika dibandingkan NTP pada Desember 2018 yang mencapai 95,43 persen. Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,60 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik lebih tinggi 0,82 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga terjadi kenaikan sebesar 1,02 persen dan indeks BPPBM naik 0,23 persen. Jika dilihat masing-masing subsektor pada Januari 2019, terjadi penurunan nilai NTP pada hortikultara, subsektor perkebunan rakyat, peternakan dan subsektor perikanan, hanya subsektor tanaman pangan yang terjadi kenaikan nilai NTP,” katanya.

“Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Januari 2019, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 0,60 persen dibandingkan Desember 2018, yaitu dari 122,27 menjadi 123,00. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik sebesar 2,05 persen, subsektor peternakan sebesar 0,22 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,06 persen. Sedangkan Indeks yang diterima petani pada subsektor hortikultura dan subsektor perkebunan rakyat turun masing-masing 0,90 persen dan 0,55 persen,” ujarnya.

“Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Januari 2019, Ib gabungan mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen dibandingkan dengan Ib Desember 2018, yaitu dari 128,13 menjadi 129,17. Kenaikan Ib ini terjadi pada seluruh subsektor. Subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,87 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 0,96 persen, subsektor perkebunan rakyat naik sebesar 0,88 persen, subsektor peternakan naik sebesar 0,44 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,80 persen,” jelasnya.

Pada Januari 2019 NTP-P sebesar 95,08. Pada bulan ini NTP-P naik sebesar 1,16 persen. Hal ini karena It naik 2,05 persen , sementara itu Ib juga terjadi kenaikan yang lebih kecil hanya 0,87 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Januari 2019 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-P masih dibawah 100.

Naiknya It pada Januari 2019 ini karena indeks harga pada kelompok padi dan palawija terjadi kenaikan. Kelompok padi naik sebesar 2,26 persen, dan kelompok palawija naik sebesar 0,03 persen. Kelompok palawija terjadi kenaikan terutama disebabkan naiknya harga pada komoditi kacang tanah. Indeks yang dibayar petani (Ib) pada Januari 2019 naik sebesar 0,87 persen, terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 1,02 persen dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen. (MZR)

 

 239 total views,  1 views today

Check Also

Mengungkap Misteri Indahnya Lagu Banjar lewat Bedah Buku Biografi Anang Ardiansyah

Banjarmasin, mediaprospek.com – Dua Tokoh berbeda Sabtu siang (19/09/2020) mengupas tuntas buku biografi salah satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.