DESEMBER NTP KALSEL NAIK 0,09 PERSEN

 

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Produsen Gabah Bulan Desember 2018

 BANJARMASIN, Prospek Kepala Badan Pusat Statisik Prov. Kalsel,Ir. Diah Utami,M.Sc, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Fachri Ubadiyah, SE. MP dan Kepala Bidang Statistik Sosial Agnes Widiastuti,S.Si. ME pada saat jumpa Pers Bulanan, kepada para awak media cetak dan Eletronik, serta para undangan dari Perwakilan Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Pemprov Kalsel di Aula kantor BPS Banjarbaru mengatakan bahwa pada bulan desember 2018 NTP Kalimantan Selatan tercatat 95,43 atau naik 0,09 persen dibanding NTP November 2018 yang mencapai 95,33. Kenaikan NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,87 persen lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,78 persen. Rabu (2/1).

Diah mengatakan bahwa pada Desember 2018 di daerah perdesaan Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 0,94 persen, dimana indeks harga seluruh kelompok terjadi kenaikan berkisar 0,05 – 1,86 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Selatan Desember 2018 sebesar 103,36 atau naik sebesar 0,60 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya yang mencapai 102,75.

Ia menjelaskan bahwa Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 5,05 persen, dari Rp 4.908,95 per Kg di bulan November 2018 menjadi Rp 5.156,69 per Kg di bulan Desember 2018. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 4,82 persen dari Rp 5.008,62 per Kg di bulan November 2018 menjadi Rp 5.250 per Kg di bulan Desember 2018.

“Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani,” katanya.

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya,”ujarnya.

“Pada Desember 2018, NTP Kalimantan Selatan tercatat sebesar 95,43 atau naik 0,09 persen jika dibandingkan NTP pada November 2018 yang mencapai 95,33 persen. Kenaikannya NTP ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,87 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik lebih kecil hanya 0,78 persen. Dimana indeks konsumsi rumah tangga terjadi kenaikan sebesar 0,94 persen dan indeks BPPBM naik 0,28 persen,” tandasnya.

“Jika dilihat masing-masing subsektor pada Desember 2018, terjadi kenaikan nilai NTP pada subsektor tanaman pangan, hortikultara dan perternakan, sedangkan pada subsektor subsektor perkebunan rakyat dan perikanan terjadi penurunan nilai NTP,” ungkapnya.

 

Diah juga menyampaikan bahwa Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Desember 2018, It gabungan terjadi kenaikan sebesar 0,87 persen dibandingkan November 2018, yaitu dari 121,21 menjadi 122,27. Bila dilihat masing-masing subsektor, indeks It subsektor tanaman pangan naik sebesar 1,94 persen, subsektor hortikultura naik 1,15 persen, subsektor peternakan sebesar 1,21 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,99 persen. Sedangkan Indeks yang diterima petani pada subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,62 persen.

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Desember 2018, Ib gabungan mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen dibandingkan dengan Ib November 2018, yaitu dari 127,14 menjadi 128,13. Kenaikan Ib ini terjadi pada seluruh subsektor. Subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,74 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 0,83 persen, subsektor perkebunan rakyat naik sebesar 0,85 persen, subsektor peternakan naik sebesar 0,61 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 1,01 persen.

Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P)

Pada Desember 2018 NTP-P sebesar 93,99. Pada bulan ini NTP-P naik sebesar 1,19 persen. Hal ini karena It naik 1,94 persen , sementara itu Ib juga terjadi kenaikan yang lebih kecil sebesar 0,74 persen. Indeks yang diterima petani (it) bulan Desember 2018 lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-P masih dibawah 100.

Naiknya It pada Desember 2018 ini karena indeks harga pada kelompok padi dan palawija terjadi kenaikan. Kelompok padi naik sebesar 2,00 persen, dan kelompok palawija naik sebesar 1,34 persen. Kelompok palawija terjadi kenaikan terutama disebabkan naiknya harga pada komoditi kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu. Indeks yang dibayar petani (Ib) pada Desember 2018 naik sebesar 0,74 persen, terutama dikarenakan naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,94 persen, dan indeks harga kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,13 persen.

 

Subsektor Hortikultura (NTP-H)

NTP-H bulan Desember 2018 mencapai 103,49 persen. Pada bulan ini NTP-H naik sebesar 0,32 persen. Hal ini disebabkan it naik 1,15 persen menjadi 132,62 pada bulan Desember 2018, sementara Ib mengalami kenaikan hanya sebesar 0,83 persen menjadi 129,36 pada bulan Desember 2018 lebih kecil dari indeks It Sehingga NTP-H diatas 100.

Naiknya It bulan Desember 2018 terutama karena terjadi kenaikan indeks harga komoditas pada kelompok buah-buahan sebesar 1,25 persen. Kenaikan terjadi pada jeruk, nangka, pisang dan sirsak. Kelompok sayuran dipicu oleh naiknya harga cabe rawit, cabe merah, bawang daun dan sawi. Sedangkan kelompok tanaman obat dikarenakan kenaikan harga kunyit dan kencur.Kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,96 persen, dan indeks BPPBM naik 0,04 persen.

 

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR)

Pada Desember 2018, NTP-TPR mencapai 78,50 atau turun sebesar 2,45 persen. Hal ini terjadi karena It turun 1,62 persen menjadi 101,97. Sementara Ib naik sebesar 0,85 persen menjadi 129,90 pada Desember 2018. Indeks yang diterima petani (it) bulan Desember 2018 masih lebih rendah dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TPR masih dibawah 100.

Indeks harga yang diterima pada kelompok tanaman perkebunan rakyat dari 103,64 pada November 2018 menjadi 101,97 pada Desember 2018, kenaikan harga hampir terjadi seluruh komoditi perkebunan rakyat terjadi penurunan, kecuali kelapa yang terjadi kenaikan. Sedangkan kenaikan pada Ib disebabkan naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,93 persen, dan indeks BPPBM naik 0,48 persen.

Subsektor Peternakan (NTP-TR)

Pada bulan Desember 2018, NTP-TR mencapai 111,36 atau naik sebesar 0,60 persen. Hal ini terjadi karena It naik 1,21 persen, sementara Ib naik hanya sebesar 0,61 persen.Kenaikan It bulan Desember 2018 karena naiknya indeks harga komoditas pada kelompok ternak besar 0,66 persen, kelompok ternak kecil naik 2,00 persen, kelompok unggas naik 1,46 dan kelompok hasil ternak naik sebesar 1,27 persen. Kenaikan juga terjadi pada Ib yang disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,81 persen, dan indeks BPPBM naik 0,34 persen. Namun demikian indeks yang diterima petani (it) masih lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani (Ib) sehingga NTP-TR diatas 100.

 

Subsektor Perikanan (NTNP)

Pada Desember 2018, NTNP mencapai 112,80 atau turun sebesar 0,02 persen. Hal ini karena It naik lebih kecil dari Ib. It naik sebesar 0,99 persen, sedangkan Ib terjadi kenaikan sebesar 1,01 persen. Kenaikan It pada bulan Desember 2018 disebabkan indeks kelompok perikanan tangkap secara rata-rata naik sebesar 0,52 persen, dan kelompok budidaya ikan naik sebesar 2,32 persen. kenaikan Ib disebabkan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 1,19 persen, dan indeks kelompok BPPBM naik 0,62 persen.

 Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)

Pada Desember 2018, NTN mencapai 114,86 atau turun sebesar 0,52 persen. penurunan NTN karena It naik lebih kecil dari Ib, indeks yang diterima (It) naik sebesar 0,52 persen sementara Ib naik 1,05 persen. Kenaikan It karena hasil penangkapan perairan umum naik sebesar 1,22 persen, dan kelompok penangkapan laut naik sebesar 0,28 persen. Sementara kenaikan pada Ib dikarenakan naiknya indeks harga kelompok KRT sebesar 1,20 persen, dan kelompok BPPBM naik sebesar 0,72 persen.

 Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)

Pada Desember 2018, NTPi mencapai 107,37 atau naik sebesar 1,42 persen. Indeks yang diterima petani (It) naik 2,32 persen dan kenaikan terjadi karena It kelompok budidaya air tawar naik sebesar 2,64 persen, dimana terjadi kenaikan harga ikan lele, ikan bawal, nila, patin dan ikan mas. Kelompok budidaya air payau naik sebesar 1,44 persen. Indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,89 persen. Kenaikan yang terjadi pada Ib dikarenakan indeks kelompok KRT naik 1,15 persen, dan kelompok BPPBM naik 0,35 persen .

 Perbandingan Antar Provinsi

Dari 33 provinsi yang dihitung NTP-nya, Provinsi dengan NTP tertinggi pada Desember 2018 adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 110,91 dan terendah Provinsi Bangka Belitung sebesar 84,41 dan Provinsi Kalimantan Selatan berada diurutan ke 21, masih dibawah NTP Nasional yang mencapai 103,16. Pada bulan ini terdapat 11 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 22 provinsi mengalami penurunan NTP. Dilihat dari besar kenaikan NTP, tertinggi terjadi di Provinsi Maluku yang naik sebesar 0,81 persen, dan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang turun sebesar 2,34 persen.

Dari 4 provinsi di Pulau Kalimantan yang melaporkan hasil survei pada bulan Desember 2018, NTP tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 95,43 persen dikuti oleh Kalimantan Tengah sebesar 95,02 persen, Kalimantan Barat sebesar 94,66 dan Kalimantan Timur sebesar 94,48 persen. Dilihat dari besarnya kenaikan NTP , maka Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen. Sedangkan Provinsi Kalimantan Timur turun 0,10 persen, Provinsi Kalimantan Barat turun 0,63 persen, dan Provinsi Kalimantan Tengah turun 0,66 persen.

 Inflasi Pedesaan

Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah pedesaan. Pada Desember 2018, di daerah perdesaan Kalimantan Selatan terjadi Inflasi sebesar 0,94 persen. Hampir seluruh Kelompok mengalami kenaikan, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,86 persen. Kelompok lainnya naik berkisar antara 0,05 sampai dengan 0,52 persen, kecuali kelompok sandang turun 0,03 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP)

NTUP pada Desember 2018 mencapai 103,36 atau naik sebesar 0,60 persen. Hal ini terjadi karena It naik 0,87 persen dibanding bulan sebelumnya, dan indeks kelompok BPPBM naik 0,28 persen secara gabungan. Indeks yang diterima petani (It) sebesar 122,27 masih lebih besar dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 118,29 sehingga NTUP diatas masih diatas 100. NTUP mencermin kemampuan produksi petani, dengan NTUP lebih besar dari 100 berarti usaha pertanian tersebut memberikan keuntungan.

Bila dilihat dari subsektornya, diketahui 4 subsektor mengalami kenikan NTUP dan 1 subsektor lainnya mengalami penurunan NTUP. Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan tertinggi sebesar 1,80 persen, 3 subsektor lainnya naik berkisar antara 0,37 – 1,10 persen. Hanya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun 2,09 persen.

Perkembangan Harga Produsen Gabah

Survei harga produsen gabah selama Desember 2018 dilakukan di 10 Kabupaten meliputi Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu dan Balangan, Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 66 observasi.

Dibulan Desember 2018 Harga terendah ditingkat petani sebesar RP.4.545,00 per kilogram dengan varitas siam Rata terjadi di Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Harga tertinggi mencapai Rp.5.980,00 per kilogram terdapat di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dengan varitas Unus Mutiara.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 5,05 persen, dari Rp 4,908,95 per Kg di bulan November 2018 menjadi Rp 5.156,69 per Kg di bulan Desember 2018 , dimana pada bulan ini transaksi yang terjadi didominasi varitas lokal (karang dukuh, mayang dan siam). Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 4,82 persen dari 5.008,62 per Kg di bulan November 2018 menjadi Rp 5.250,21 per Kg di bulan Desember 2018.

Secara umum, komponen mutu gabah selama bulan Desember 2018 masih cenderung fluktuatif dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, pada bulan ini terjadi kenaikan persentase kadar air karena cuaca sudah mulai musim hujan, dan kadar hampa/kotoran juga terjadi kenaikan dibandingkan bulan November 2018. Rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/kotoran gabah kualitas GKP bulan Desember 2018 masing-masing sebesar 14,89 persen dan 3,81 persen. (mzr)

 319 total views,  1 views today

Check Also

Pengunduran Diri Pegawai KPK, Ka Biro Humas KPK Jangan Bernuansa Drama

  Oleh : Syahrir Irwan Yusuf, SH (Pengamat dan Praktisi Hukum) Dalam akhir pekan lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.